Breaking

MSCI Asia Pacific Turun 0,8 persen, Saham Oil Naik, Teknologi Tertekan Kenaikan Yield

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 18 Agustus 2026
MSCI Asia Pacific Turun 0,8 persen, Saham Oil Naik, Teknologi Tertekan Kenaikan Yield
Ilustrasi Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,8 persen dipicu kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi.(sumber gambar: NET)

JAKARTA - Saham-saham Asia turun pada Selasa seiring lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi yang kembali memicu kekhawatiran inflasi, dengan Jepang dan Korea Selatan memimpin penurunan setelah beberapa sesi penguatan.

Pelemahan semakin dalam setelah gencatan senjata AS-Iran berakhir dan harapan akan terobosan diplomatik yang cepat memudar.

Brent crude naik di atas $91 per barel, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, memberikan tekanan baru pada aset berisiko.

Indeks MSCI AC Asia Pacific turun sekitar 0,8 persen, sementara Nasdaq 100 Futures melemah 0,7 persen dan S&P 500 Futures tergelincir 0,4 persen.

Kenaikan imbal hasil jangka panjang menambah tekanan pada saham-saham teknologi, yang selama ini menjadi penggerak utama pemulihan Asia belakangan ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi dalam tiga dekade mendekati 2,95 persen, mencerminkan ekspektasi yang semakin kuat terhadap pengetatan kebijakan Bank of Japan dan meningkatnya kekhawatiran atas prospek fiskal Jepang.

Nikkei 225 Jepang turun 2,5 persen, sementara TOPIX yang lebih luas melemah 1,1 persen.

KOSPI Korea Selatan menghapus kenaikan awal lebih dari 3 persen dan tergelincir 1,6 persen setelah kembali dari libur pada Senin.

Nikkei memutus tren kenaikan lima sesi berturut-turut karena harga minyak yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan saham teknologi.

Penurunan indeks acuan ini dipimpin oleh saham-saham chip dan komponen elektronik.

Saham teknologi Jepang menanggung beban terbesar dari pelemahan ini.

Kioxia Holdings anjlok 7,6 persen, Murata Manufacturing turun 9,6 persen, dan TDK kehilangan 3,7 persen.

Sony melemah 1,2 persen.

Saham chip Korea Selatan juga melemah dengan Samsung Electronics turun 1,4 persen, sementara LG Innotek terkoreksi 1,3 persen.

Namun, SK Hynix justru melawan tren pelemahan sektor dan naik 1,4 persen.

Pembalikan arah ini terjadi meski ada komitmen besar lainnya terhadap infrastruktur AI.

Nvidia telah menyetujui untuk mendukung pembiayaan hingga $105 miliar untuk kampus pusat data OpenAI baru di Ohio, yang menggarisbawahi skala pengeluaran di balik pengembangan AI.

Langkah terbaru ini menunjukkan bahwa tekanan makro untuk sementara mengalahkan narasi pengeluaran AI yang lebih luas.

Analis DBS menyatakan bahwa latar belakang risiko ekuitas secara keseluruhan tetap kondusif, didukung oleh laba perusahaan yang kuat, booming AI, dan Federal Reserve yang kurang hawkish.

Mereka menandai potensi peningkatan risiko jika reli AI goyah, ketegangan geopolitik semakin meningkat, atau Fed terpaksa memperketat kebijakan kembali.

Shanghai Shenzhen CSI 300 China turun 0,8 persen, sementara Shanghai Composite kehilangan 0,39 persen.

Hang Seng Hong Kong melemah 0,73 persen.

Saham teknologi China dan Hong Kong juga tertekan.

Foxconn Industrial Internet turun 3,1 persen, Luxshare Precision kehilangan 2,3 persen, dan Semiconductor Manufacturing International Corp tergelincir 0,5 persen.

Di antara nama-nama besar Hong Kong, JD.com kehilangan 2,7 persen, Meituan turun 3,4 persen, dan Tencent melemah 1,8 persen.

Saham-saham terkait minyak bergerak berlawanan arah seiring kenaikan harga minyak mentah.

Inpex Jepang naik 2,7 persen dan Eneos menguat 2,2 persen, sementara CNOOC naik sekitar 2 persen di Hong Kong.

Reli energi mencerminkan kekhawatiran yang kembali muncul atas risiko pasokan Timur Tengah setelah gencatan senjata AS-Iran berakhir.

Iran mengancam akan mengambil postur yang lebih ofensif, sementara Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan sikap yang lebih keras dalam negosiasi.

Perkembangan ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,2 persen, sementara FTSE Straits Times Singapore turun 1,3 persen.

Nifty 50 India melemah 0,3 persen, dan IDX Composite Indonesia naik 1,3 persen.

Indeks sentimen konsumen Westpac-Melbourne Institute Australia naik 6 persen menjadi 88,9 pada Agustus, menandai perbaikan bulanan kedua berturut-turut.

Pasar kini beralih perhatian ke keputusan Bank Indonesia pada Rabu, dengan konsensus memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan tidak berubah, setelah menahannya di 5,75 persen pada Juli.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua