Riset Terbaru Ungkap Keju Bisa Memberikan Perlindungan Otak dari Demensia
- Jumat, 19 Desember 2025
JAKARTA - Keju tinggi lemak menjadi sorotan setelah studi terbaru menunjukkan potensi perlindungan terhadap demensia.
Studi observasional ini mengikuti hampir 28.000 orang di Swedia selama 25 tahun. Hasil awal menyoroti cheddar, Brie, dan Gouda yang mengandung lebih dari 20 persen lemak jenuh.
Namun, sejumlah pakar menilai temuan ini belum cukup untuk mendorong peningkatan konsumsi keju. Analisis statistik berada di batas signifikansi sehingga hasil bisa saja kebetulan. Oleh karena itu, konsumsi keju tetap perlu diperhatikan dengan pola makan seimbang.
Baca Juga
Beberapa keterbatasan penelitian menjadi catatan penting. Pola makan peserta hanya dicatat pada awal penelitian tanpa pemantauan rutin selama 25 tahun. Analisis lanjutan hanya dilakukan pada sebagian kecil peserta setelah lima tahun untuk melihat perubahan pola makan.
Perlindungan Otak dari Keju dan Krim
Studi menunjukkan konsumsi 50 gram keju tinggi lemak per hari dikaitkan dengan risiko demensia 13 persen lebih rendah. Sementara itu, konsumsi 20 gram atau lebih krim tinggi lemak dikaitkan dengan risiko 16 persen lebih rendah. Temuan ini tidak membuktikan keju mencegah demensia, tetapi menyoroti hubungan potensial dengan kesehatan otak.
Manfaat keju paling terlihat saat menggantikan makanan kurang sehat. Misalnya, daging merah olahan atau makanan berlemak tinggi. Dengan demikian, keju menjadi pilihan yang relatif lebih aman dalam pola makan dibandingkan makanan lain yang lebih berisiko.
Beberapa studi sebelumnya menekankan lemak jenuh tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini tetap menjadi pertimbangan penting dalam menentukan konsumsi keju. Konsumsi seimbang tetap kunci agar manfaat kecil dapat diperoleh tanpa meningkatkan risiko kesehatan.
Produk Susu Lain dan Hasil Studi
Penelitian ini tidak menemukan manfaat yang jelas dari mentega, susu, produk fermentasi seperti yogurt, kefir, maupun susu rendah lemak. Bahkan, kelompok yang mengonsumsi produk susu rendah lemak memiliki beban gangguan kesehatan awal lebih tinggi. Hal ini termasuk diabetes, dislipidemia, dan penyakit jantung koroner.
Kondisi kesehatan yang buruk menjadi faktor risiko utama demensia. Produk susu rendah lemak bisa digunakan sebagai strategi mitigasi bagi individu dengan risiko penyakit kronis. Dengan begitu, pola makan dan kondisi kesehatan awal tetap menjadi faktor dominan dalam kesehatan otak.
Selain itu, studi ini menunjukkan manfaat keju tinggi lemak bukan universal. Perlindungan lebih terasa pada individu tanpa gen risiko Alzheimer tertentu. Hasil ini menegaskan perlunya penelitian lanjutan sebelum menyarankan konsumsi keju tinggi lemak untuk pencegahan demensia.
Peran Asam Lemak Omega-3
Sapi perah di Swedia lebih banyak diberi pakan rumput, menghasilkan susu dan keju dengan kandungan omega-3 lebih tinggi. Asam lemak omega-3 dikenal baik untuk kesehatan otak dan melindungi saraf dari kerusakan. Manfaat ini terutama terlihat pada orang dengan gen tertentu yang meningkatkan risiko Alzheimer.
Namun, penelitian ini justru menemukan perlindungan lebih besar pada orang tanpa gen risiko tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme perlindungan yang tepat. Oleh karena itu, konsumsi keju tidak bisa dianggap sebagai strategi utama pencegahan Alzheimer.
Kandungan omega-3 dalam keju memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan secara umum. Namun, faktor genetika dan pola makan lainnya tetap menentukan risiko penyakit neurodegeneratif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak asam lemak omega-3 pada otak manusia.
Saran Konsumsi
Kesimpulan utama adalah keju tinggi lemak memberikan manfaat kecil bagi otak. Manfaat ini terlihat ketika keju menggantikan makanan kurang sehat. Namun, konsumsi harus tetap seimbang dengan memperhatikan risiko penyakit jantung dan metabolisme tubuh.
Temuan ini menantang pandangan bahwa semua produk susu tinggi lemak buruk untuk otak. Tetapi, rekomendasi peningkatan konsumsi keju tinggi lemak masih belum dapat dilakukan secara luas. Pola makan yang beragam, sehat, dan seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan otak.
Selain keju, faktor gaya hidup seperti olahraga, tidur cukup, dan mengelola stres juga memengaruhi risiko demensia. Dengan kombinasi pola makan dan kebiasaan sehat, perlindungan otak bisa diperoleh secara optimal. Kesadaran akan kualitas makanan dan konteks konsumsi menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Alif Bais Khoiriyah
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Livin Mandiri Dorong Transformasi Digital Transaksi Nasabah Ritel di Era Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
Solusi Finansial Fleksibel Jadi Kunci Dukung Kebutuhan dan Gaya Hidup Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
OJK Perkuat Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan Agar Transaksi Lebih Aman
- Rabu, 21 Januari 2026
Harga Emas Antam Terus Naik, Saatnya Pertimbangkan Investasi Emas Sekarang
- Rabu, 21 Januari 2026
Chelsea Bersiap Sambut Vinicius Junior yang Diprediksi Pecahkan Rekor Transfer
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
IHSG Bergerak Dinamis, Simak Rekomendasi Saham Terbaik untuk Investor Hari Ini
- Rabu, 21 Januari 2026
Livin Mandiri Dorong Transformasi Digital Transaksi Nasabah Ritel di Era Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
Solusi Finansial Fleksibel Jadi Kunci Dukung Kebutuhan dan Gaya Hidup Modern
- Rabu, 21 Januari 2026
OJK Perkuat Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan Agar Transaksi Lebih Aman
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
4.
Peran Baru OJK dalam Perlindungan Konsumen di Sektor Keuangan
- 21 Januari 2026
5.
JMA Syariah Targetkan Kenaikan Pendapatan 20% di 2026
- 21 Januari 2026









