Integrasi Ilmu Sosial Perkuat Budaya, Dorong Pembangunan Vietnam Berkelanjutan

Integrasi Ilmu Sosial Perkuat Budaya, Dorong Pembangunan Vietnam Berkelanjutan
Kamis, 29 Januari 2026 | 11:51:32 WIB

JAKARTA - Di tengah arus globalisasi dan transformasi digital yang bergerak cepat, Vietnam menegaskan satu hal penting: pembangunan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada indikator ekonomi, tetapi juga harus ditopang kekuatan budaya yang hidup dan membumi. Karena itu, implementasi Resolusi Politbiro No. 80-NQ/TW tentang pengembangan budaya Vietnam menempatkan ilmu sosial dan humaniora sebagai instrumen strategis—bukan sekadar bidang akademik, melainkan “mesin pengetahuan” yang mampu menyebarkan nilai budaya, membangun landasan spiritual, dan menciptakan kekuatan pendorong endogen untuk pembangunan yang cepat serta berkelanjutan.

Dalam wawancara dengan reporter Kantor Berita Vietnam, sejumlah ahli memaparkan cara konkret agar pengetahuan ilmu sosial tidak berhenti sebagai teori di ruang penelitian, melainkan hadir langsung dalam kehidupan budaya masyarakat. Gagasan yang mengemuka adalah memperkuat jembatan antara hasil riset dan ruang sosial, sehingga budaya benar-benar menjadi fondasi sekaligus kekuatan intrinsik bangsa, seperti ditekankan dalam Resolusi tersebut.

Ilmu Sosial dan Humaniora sebagai Mesin Penyebar Nilai Budaya

Dalam proses implementasi Resolusi 80-NQ/TW, mempromosikan peran ilmu sosial dan humaniora dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat nilai-nilai budaya di masyarakat. Ilmu sosial bukan hanya berfungsi sebagai alat analisis, tetapi juga menjadi sumber gagasan dan panduan dalam merawat identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Kerangka pikir ini menunjukkan bahwa pengetahuan sosial tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya dibaca kalangan terbatas. Ia harus mampu menjelma menjadi kekuatan budaya yang terasa manfaatnya bagi masyarakat luas. Ketika ilmu sosial terhubung langsung dengan kehidupan budaya, maka hasil riset dapat menjadi fondasi kebijakan, pendidikan, hingga gerakan sosial yang memperkuat daya tahan bangsa.

Pendekatan ini pula yang membuat Resolusi 80-NQ/TW dinilai penting karena menempatkan budaya sebagai pusat strategi pembangunan nasional. Budaya tidak lagi dianggap bidang pelengkap, melainkan pilar utama pembangunan berkelanjutan.

Reformasi Penerbitan: Menjembatani Riset Akademik dan Kehidupan Sosial

Salah satu persoalan utama yang disorot adalah masih adanya jarak antara pengetahuan ilmiah dan kehidupan sosial. Menurut Profesor Madya Dr. Pham Minh Phuc, Pelaksana Tugas Direktur Penerbitan dan Jurnal Ilmu Sosial serta Pemimpin Redaksi Penerbitan Ilmu Sosial (Akademi Ilmu Sosial Vietnam), penerbitan Resolusi Politbiro No. 80-NQ/TW menuntut inovasi yang kuat dalam kegiatan penerbitan.

Ia menilai sistem lembaga penelitian Vietnam memiliki jumlah karya ilmu sosial dan humaniora yang besar, dengan nilai teoritis maupun praktis tinggi untuk masyarakat, budaya, dan bangsa. Namun, hasil penelitian tersebut sering kali belum sepenuhnya “turun” ke masyarakat karena belum dikemas menjadi pengetahuan yang mudah dipraktikkan.

Sebagai unit penerbitan khusus di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan, Penerbitan Ilmu Sosial disebut harus menjalankan misi lebih luas daripada sekadar menerbitkan karya ilmiah. Ia perlu mengubah hasil penelitian menjadi sumber daya intelektual dan nilai budaya yang dapat tersebar ke seluruh masyarakat.

Menurut Profesor Madya Dr. Pham Minh Phuc, salah satu arah utama adalah inovasi pemikiran penerbitan menuju transformasi pengetahuan. Setiap karya ilmiah tidak cukup diterbitkan sebagai publikasi tunggal, melainkan harus diorganisasikan sebagai sumber pengetahuan primer yang dapat dijalin dan disampaikan kepada beragam kelompok sasaran—mulai dari peneliti, administrator, pendidik, hingga masyarakat umum yang tertarik pada isu sosial budaya.

Peran Penyunting dan Inovasi Bentuk Ekspresi di Era Digital

Upaya mengintegrasikan pengetahuan ilmu sosial ke dalam kehidupan budaya juga menyasar proses editorial dan bentuk penyajian karya ilmiah. Profesor Madya Dr. Pham Minh Phuc menekankan bahwa peran penyunting harus ditingkatkan menjadi mitra akademis, bukan hanya pemeriksa teknis.

Penyunting tidak hanya melakukan fungsi peninjauan teknis dan linguistik, tetapi berkolaborasi dengan penulis untuk mengklarifikasi tesis utama, signifikansi sosial, dan nilai budaya karya. Dengan demikian, pengetahuan ilmiah tetap menjaga standar akademis, tetapi sekaligus lebih mudah diakses publik.

Arah penting lain adalah menghubungkan tugas melestarikan serta mempromosikan nilai budaya tradisional dengan inovasi dalam bentuk ekspresi. Karya penelitian mengenai komunitas, kelompok etnis, warisan budaya, kepercayaan, agama, keluarga, dan tema sosial lainnya dapat menjadi produk budaya bernilai panjang jika disusun dengan struktur, bahasa, dan presentasi yang tepat serta dipadukan dengan teknologi digital.

Dalam konteks ini, Penerbit Ilmu Sosial juga disebut tengah membangun ekosistem penerbitan digital di bidang ilmu sosial dan humaniora. Implementasinya perlu dilakukan sistematis dengan peta jalan yang jelas, termasuk memperkuat koordinasi dengan lembaga penelitian, jurnal ilmiah, lembaga pelatihan, dan organisasi budaya. Tujuannya agar pengetahuan ilmu sosial lebih sering hadir dalam ruang budaya digital, sehingga lebih dekat dengan generasi masa kini.

Profesor Madya Dr. Pham Minh Phuc menegaskan bahwa penerapan Resolusi No. 80-NQ/TW di bidang penerbitan ilmu sosial bukan sekadar persyaratan umum, melainkan tanggung jawab langsung Penerbit Ilmu Sosial di bawah Akademi Ilmu Sosial Vietnam. Tujuan akhirnya adalah membangun jembatan berkelanjutan antara penelitian akademik dan kehidupan sosial, antara pelestarian nilai tradisional dan penciptaan budaya di era transformasi digital.

Budaya sebagai Kekuatan Intrinsik dan Fondasi Spiritualitas Bangsa

Dari perspektif penelitian budaya, Ibu Nguyen Thi Hue, M.A., dari Institut Studi Budaya (Akademi Ilmu Sosial Vietnam), memandang inti paling signifikan dari Resolusi 80-NQ/TW adalah penegasan peran sentral budaya dalam strategi pembangunan nasional. Menurutnya, ini bukan sekadar orientasi ideologis, tetapi pilihan strategis untuk menciptakan landasan spiritual yang kokoh bagi pembangunan Vietnam.

Resolusi tersebut menekankan: "Budaya harus benar-benar menjadi fondasi yang kokoh, kekuatan intrinsik bangsa, dan sistem pengaturan untuk pembangunan negara yang cepat dan berkelanjutan, dengan tujuan mencapai 100 tahun sejak berdirinya Partai dan 100 tahun sejak berdirinya Negara."

Nguyen Thi Hue menilai penetapan budaya sebagai “kekuatan intrinsik” menunjukkan pergeseran besar dalam cara pandang pembangunan: budaya tidak lagi diposisikan sebagai bidang pendukung, melainkan sebagai salah satu pilar pembangunan berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa sejarah Vietnam menunjukkan setiap periode terobosan selalu terkait dengan penguatan nilai spiritual dan kepercayaan sosial. Budaya bukan hanya kristalisasi tradisi, tetapi juga sumber daya pembentuk karakter, kemauan, dan kemampuan bangsa untuk melewati tantangan.

Di era globalisasi dan transformasi digital, nilai tradisional menghadapi risiko kaburnya norma, penyimpangan gaya hidup, hingga konflik nilai. Karena itu, kebutuhan membangun sistem nilai bersama menjadi mendesak. Resolusi 80 pun menegaskan tugas "mengembangkan budaya dan masyarakat Vietnam secara komprehensif berdasarkan nilai-nilai nasional, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keluarga, dan standar masyarakat Vietnam."

Nguyen Thi Hue menilai poin ini penting untuk riset budaya dan perencanaan kebijakan saat ini. Ketika nilai-nilai disebarluaskan secara jelas, budaya akan menjadi norma yang membimbing perilaku, membentuk gaya hidup positif, serta meningkatkan kualitas manusia—yang menjadi inti pembangunan berkelanjutan.

Ia juga menekankan bahwa budaya tidak hanya hidup di institusi atau ruang tradisional, melainkan harus hadir dalam pemikiran pembangunan, organisasi kehidupan sosial, dan perilaku sehari-hari setiap individu. Integrasi budaya ke semua aspek kehidupan menjadi prasyarat agar Resolusi 80 tidak berhenti sebagai slogan.

Dari perspektifnya, mempromosikan nilai tradisional bukan berarti pelestarian tertutup. Budaya akan tumbuh jika mampu menyerap nilai terbaik umat manusia secara selektif sambil menjaga identitas nasional. Inilah semangat utama Resolusi 80: membangun budaya Vietnam yang maju dan modern tetapi tetap berakar pada warisan.

Pada akhirnya, aspirasi pembangunan di era baru tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati juga tercermin dari pembangunan manusia dan kedalaman budaya masyarakat. Nguyen Thi Hue meyakini, jika Resolusi 80-NQ/TW diterapkan secara serentak, konsisten, dan terkait erat dengan kehidupan sosial budaya Vietnam, maka resolusi tersebut akan menjadi sumber daya spiritual besar yang mendorong terwujudnya tujuan pembangunan nasional secara berkelanjutan.

Reporter: Gemilang Ramadhan