Danantara Pacu Konsolidasi, BUMN Targetkan Laba Rp350 Triliun 2026
JAKARTA - Pemerintah kian serius mendorong transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih ramping, efisien, dan profesional. Salah satu langkah strategis yang kini menjadi sorotan adalah penguatan peran Danantara sebagai pengelola dan penggerak konsolidasi BUMN secara lebih terstruktur.
Targetnya pun tidak main-main. Pemerintah melalui BP BUMN memasang proyeksi laba kolektif BUMN pada 2026 berada di kisaran Rp340–350 triliun, jauh di atas estimasi laba 2025 yang berada pada rentang Rp280–285 triliun. Peningkatan target laba ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi indikator arah baru: BUMN diharapkan tidak hanya besar, namun juga sehat, kompetitif, dan mampu menjadi mesin ekonomi nasional.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria menyebut target laba tersebut sudah masuk dalam rencana kerja. Bahkan, ia membuka peluang laba BUMN bisa melampaui target yang telah ditetapkan, asalkan konsolidasi dan perbaikan fundamental perusahaan berjalan sesuai rencana.
Target Laba 2026 Naik Tajam, Pemerintah Kejar Efisiensi BUMN
Kepala BP BUMN Dony Oskaria menargetkan laba kolektif BUMN pada 2026 mencapai kisaran Rp 340–350 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding laba 2025 yang diperkirakan mencapai kisaran Rp 280–285 triliun.
Kenaikan target laba tersebut menggambarkan adanya optimisme baru dalam tata kelola BUMN. Pemerintah ingin memastikan perusahaan-perusahaan pelat merah tidak lagi berjalan dengan pola lama yang boros biaya dan kurang adaptif terhadap perubahan pasar. Konsolidasi menjadi kunci utama untuk menekan inefisiensi, mengurangi tumpang tindih bisnis, serta memperkuat daya saing.
Di saat ekonomi global masih penuh tantangan, BUMN juga dituntut menjadi pilar stabilitas nasional. Karena itu, perencanaan laba 2026 diposisikan sebagai target realistis namun tetap agresif, didorong oleh restrukturisasi dan evaluasi menyeluruh yang dilakukan pemerintah.
Danantara Jadi Mesin Pengelolaan BUMN yang Lebih Profesional
Dony menjelaskan langkah strategis BUMN melalui Danantara yang akan mengelola perusahaan milik negara secara efektif, efisien, dan profesional. Hal ini sesuai dengan pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026 di Davos, pekan lalu.
Dengan Danantara, pengelolaan BUMN diarahkan tidak lagi sekadar administratif, tetapi berbasis kinerja dan keberlanjutan bisnis. Artinya, perusahaan yang sehat akan diperkuat, sementara perusahaan yang lemah akan dibenahi melalui langkah terukur, termasuk konsolidasi, restrukturisasi, atau penggabungan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa agenda besar yang sedang dijalankan bukanlah proyek “merger demi merger”, melainkan transformasi yang dimulai dari akar: menilai kondisi perusahaan secara menyeluruh, lalu mengambil keputusan berdasarkan data dan kebutuhan pasar.
Review Fundamental Jadi Dasar Konsolidasi, Bukan Sekadar Penggabungan
Proses penilaian yang dilakukan pada BUMN itu mencakup model bisnis dan struktur biaya, analisis pasar, kondisi industri, hingga kapabilitas internal. Proses review yang holistik itu akan menjadi acuan utama dalam konsolidasi BUMN. Dengan penilaian yang baik, diharapkan konsolidasi akan semakin mempercepat laju kinerja BUMN.
Dalam konteks ini, pemerintah ingin memastikan setiap BUMN memiliki arah bisnis yang jelas. Model bisnis yang tidak relevan atau terlalu mahal akan ditata ulang. Struktur biaya yang tidak efisien akan dipangkas. Bahkan, kemampuan internal—mulai dari SDM, sistem operasional, hingga kepemimpinan perusahaan—ikut menjadi bahan evaluasi.
Dengan pendekatan ini, konsolidasi diposisikan sebagai strategi memperkuat, bukan sekadar merapikan. BUMN yang telah dikonsolidasikan diharapkan lebih fokus, tidak saling memakan pasar, dan mampu bersaing dengan pemain besar di tingkat nasional maupun internasional.
Contoh Konsolidasi: Asuransi BUMN Dipangkas dari 15 Jadi 3 Perusahaan
Sebagai contoh, BUMN asuransi yang akan dikonsolidasikan menjadi tiga perusahaan dari sebelumnya 15 perusahaan.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah menilai terlalu banyak entitas dalam satu sektor justru menciptakan inefisiensi. Dengan jumlah perusahaan yang lebih sedikit, pengelolaan dapat lebih fokus, biaya operasional bisa ditekan, dan kekuatan modal serta kapasitas bisnis dapat diperbesar.
Konsolidasi asuransi juga menjadi contoh konkret bagaimana Danantara bekerja: melakukan evaluasi, menyusun desain konsolidasi, lalu mendorong pelaksanaan agar target kinerja bisa meningkat.
Optimisme Capai Target: BUMN Diarahkan Jadi Kebanggaan Nasional
Pria yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara itu menegaskan BUMN di bawah pengelolaan Danantara akan bekerja keras untuk mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Dony optimistis, dengan semangat dan kerja penuh komitmen dari seluruh insan BUMN, target yang dicanangkan pada 2026 akan tercapai.
Target laba Rp340–350 triliun bukan hanya sekadar angka di atas kertas. Target itu menjadi simbol arah transformasi: BUMN ingin ditempatkan sebagai korporasi modern yang dikelola profesional, berorientasi kinerja, serta mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan negara.
Dengan konsolidasi menyeluruh yang dilakukan secara terukur, pemerintah berharap BUMN bisa menjadi lokomotif ekonomi yang kuat, sekaligus menjadi wajah Indonesia yang semakin kompetitif di mata dunia.