PLN Dukung Hilirisasi Industri Baterai Terintegrasi Nasional Strategis

PLN Dukung Hilirisasi Industri Baterai Terintegrasi Nasional Strategis
Senin, 02 Februari 2026 | 13:44:20 WIB

JAKARTA – PT PLN (Persero) memperkuat dukungannya terhadap percepatan pengembangan industri baterai terintegrasi di Indonesia melalui kolaborasi PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dengan mitra strategis. Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam upaya hilirisasi industri baterai nasional yang mencakup seluruh rantai, dari hulu hingga hilir, sekaligus mendukung ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Tanah Air.

Kolaborasi Strategis IBC dan Mitra Global

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan framework agreement antara IBC, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited di Jakarta pada Jumat, 30 Januari 2026. Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menekankan bahwa kesepakatan ini menjadi titik awal pengembangan industri baterai terintegrasi nasional.

“Melalui kemitraan dengan pelaku industri global terkemuka, kami ingin memastikan terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi yang akan memperkuat fondasi industri baterai terintegrasi nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia,” ujar Aditya.

Framework agreement ini tidak hanya membahas investasi, tetapi juga penguasaan teknologi dan pengembangan kapasitas industri dalam negeri, sehingga hilirisasi industri baterai dapat berjalan berkelanjutan dan strategis.

Investasi Signifikan dan Dampak Lapangan Kerja

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa proyek ini memiliki total nilai investasi mencapai USD 6 miliar dengan kapasitas produksi baterai listrik hingga 20 gigawatt hour (GWh). Inisiatif ini juga diproyeksikan menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat basis industri domestik dan kemampuan manufaktur nasional.

“Saya ulangi arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” tegas Bahlil. Ia juga menekankan keterlibatan aktif tenaga kerja lokal dan perusahaan dalam seluruh tahapan pengembangan industri, mulai dari pertambangan, smelter, hingga pabrik hilirisasi.

Bahlil menambahkan, proyek ini tidak hanya fokus pada baterai kendaraan listrik, tetapi juga mendukung kebutuhan pembangkit listrik hijau, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target kapasitas 100 gigawatt (GW). “Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil listrik, tapi juga didesain untuk baterai panel surya,” kata dia.

Tahap Strategis dan Studi Kelayakan

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa penandatanganan framework agreement merupakan awal perjalanan strategis proyek. Tahap selanjutnya akan meliputi pelaksanaan joint feasibility study atau studi kelayakan bersama yang mencakup seluruh aspek proyek, sebelum definitive agreement ditetapkan.

“Jadi, ini masih awal. Setelah ini masih akan ada joint feasibility study, baru nanti ada definitive agreement dan seterusnya. Jadi, ini awal dari perjalanan bersama ANTAM dan Konsorsium HYD. Kita harapkan, dalam tahun ini juga bisa diselesaikan,” ungkap Aditya.

Pendekatan bertahap ini memastikan bahwa proyek dijalankan dengan tata kelola baik dan mempertimbangkan kepentingan strategis nasional, termasuk penguatan kapasitas lokal dan penguasaan teknologi kritis.

Dukungan PLN untuk Ekosistem Energi Terbarukan

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menekankan dukungan perusahaan terhadap pengembangan industri baterai terintegrasi yang strategis. Menurutnya, penguatan ekosistem baterai dalam negeri mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara optimal dan mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

“Industri baterai terintegrasi menjadi elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih adaptif dan andal. Bagi PLN, penguatan ekosistem baterai dalam negeri mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara optimal, mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional,” kata Darmawan.

Keberadaan baterai terintegrasi nasional juga menjadi kunci dalam memastikan stabilitas pasokan listrik, memaksimalkan penggunaan sumber energi domestik, dan mendukung transisi energi yang ramah lingkungan.

Hilirisasi Nasional sebagai Pilar Strategis

Proyek ini menegaskan komitmen pemerintah dan BUMN untuk mendorong hilirisasi industri baterai sebagai bagian dari agenda nasional. Dengan basis produksi lokal yang kuat, transfer teknologi, serta keterlibatan tenaga kerja Indonesia, proyek ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri strategis dan menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai nilai baterai global.

Dalam jangka panjang, kolaborasi IBC, ANTAM, HYD, dan PLN tidak hanya menciptakan industri baterai yang mandiri, tetapi juga mendukung pengembangan kendaraan listrik, pembangkit listrik terbarukan, dan keberlanjutan energi nasional. Dengan demikian, proyek ini menjadi salah satu pilar penting dalam strategi transisi energi dan penguatan ketahanan energi Indonesia.

Reporter: Gemilang Ramadhan