Dampak Strategis Jalur Kereta Api Trans Kalimantan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Hingga 1,64 Persen

Dampak Strategis Jalur Kereta Api Trans Kalimantan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Hingga 1,64 Persen
Selasa, 03 Februari 2026 | 09:01:50 WIB

JAKARTA – Masa depan ekonomi Kalimantan Timur tampaknya akan mengalami transformasi besar seiring dengan rencana pembangunan infrastruktur rel. Berdasarkan kajian mendalam yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) bersama International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS), kehadiran jalur kereta api Trans-Kalimantan diprediksi bakal menjadi mesin penggerak baru bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) riil di wilayah tersebut. Proyek strategis ini diperkirakan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kaltim dengan kenaikan antara 1,38% hingga 1,64% dari angka baseline tahun 2024.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa pembangunan yang direncanakan dalam rentang waktu 25 tahun ini tidak hanya sekadar membangun rel, tetapi menciptakan konektivitas yang kuat antarwilayah di Kalimantan. Proyek ambisius ini diyakini mampu mengakselerasi masuknya investasi hingga mencapai angka 7,91%. Dampak positif ini akan menyentuh berbagai sektor fundamental, mulai dari konstruksi hingga industri hilir yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Bumi Etam.

Sektor Konstruksi Dan Industri Logistik Menjadi Primadona Pertumbuhan Output Daerah

Dalam skenario pembangunan jangka panjang tersebut, sektor konstruksi diprediksi akan menjadi bidang yang paling diuntungkan dengan lonjakan output mencapai 7,03%. Namun, efek dominonya tidak berhenti di situ; industri mesin, barang tambang logam, serta sektor hilirisasi pertambangan dan perkebunan juga diproyeksikan akan mengalami tren positif yang signifikan.

"Dampak yang dihasilkan dapat berupa tarikan permintaan (demand pull) terhadap sejumlah output yang dihasilkan oleh sektor hulu yang menyediakan input untuk pembangunan jalur kereta, seperti sektor besi baja, barang galian non-logam, dan sektor lainnya," jelas Jajang Hermawan dalam keterangan resmi pada Senin (2/2/2026). Melalui skema ini, pembangunan jalur kereta api berfungsi sebagai katalis yang menghidupkan rantai pasok industri berat dan manufaktur di daerah.

Urgensi Pembangunan Infrastruktur Rel Di Tengah Keterbatasan Aksesibilitas Transportasi Kaltim

Kebutuhan akan jalur kereta api di Kalimantan Timur kian mendesak mengingat kondisi infrastruktur transportasi darat yang saat ini masih terbatas. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan realita yang cukup menantang, di mana hanya 53,95% rumah tangga di Kaltim yang memiliki akses mudah ke transportasi umum dalam radius 0,5 kilometer. Angka ini menempatkan Kaltim pada posisi ke-22 dari seluruh provinsi di Indonesia.

Indeks aksesibilitas regional yang tercatat sebesar 1.614,0 menjadi sinyal kuat adanya kendala konektivitas. Selama ini, Kaltim sangat bergantung pada infrastruktur jalan raya untuk distribusi logistik darat. Sebagai perbandingan, distribusi barang lebih banyak bertumpu pada jalur laut dengan total pengangkutan mencapai 104.642 ton sepanjang 2024, di mana Pelabuhan Kuala Samboja memegang peranan vital sebesar 25%. Sementara itu, jalur udara melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan mencatat rata-rata angkutan sebesar 50.969 ton per tahun pada periode 2021-2024.

"Kehadiran Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara semakin menambah daftar pekerjaan rumah. Sebagai superhub ekonomi nasional, IKN menuntut penyediaan infrastruktur transportasi yang mumpuni untuk mendukung logistik maupun mobilitas penduduk," imbuh Jajang. Menurutnya, potensi besar Kaltim di sektor pertambangan, perkebunan, dan kehutanan sangat membutuhkan jaringan logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan daripada yang ada saat ini.

Penciptaan Lapangan Kerja Baru Dan Peningkatan Kesejahteraan Melalui Upah Riil

Selain dampak pada angka PDRB, proyek Trans-Kalimantan ini diprediksi akan membawa perubahan positif pada peta ketenagakerjaan daerah. Bank Indonesia memprakirakan adanya developmental effect berupa penyerapan tenaga kerja sebesar 1,72% pada tahap konstruksi. Angka ini diproyeksikan terus meningkat menjadi 1,86% saat jalur kereta api sudah memasuki tahap operasional secara penuh.

Menariknya, kesejahteraan pekerja juga diperkirakan membaik dengan proyeksi kenaikan upah riil sebesar 1,80%. Hal ini terjadi karena adanya pergeseran komposisi pekerjaan, dari yang semula bersifat padat karya menjadi tenaga kerja terampil yang berfokus pada manajemen logistik dan operasional perkeretaapian. Di sisi lain, kehadiran kereta api diperkirakan mampu menekan biaya distribusi barang kebutuhan pokok, yang berujung pada potensi penurunan inflasi sebesar 0,33% tanpa mengurangi gairah aktivitas usaha.

Resiliensi Ekonomi Hijau Dan Dampak Spillover Ke Provinsi Lain Di Kalimantan

Kajian ini juga menyoroti bagaimana pembangunan jalur kereta api mendukung transisi ekonomi hijau. Di masa depan, meskipun permintaan batubara global mungkin menurun, fondasi ekonomi Kaltim diprediksi tetap kokoh. Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,22% akan memicu pergeseran lapangan kerja dari sektor tambang menuju industri berbasis agro, pertambangan non-batubara, serta jasa rantai pasok yang lebih stabil.

Manfaat dari proyek ini juga dipastikan akan meluas ke provinsi tetangga melalui efek spillover. Penurunan biaya logistik dan peningkatan mobilitas faktor produksi diprediksi akan menguntungkan Kalimantan Tengah sebesar 0,42% hingga 0,49%, Kalimantan Selatan 0,35% hingga 0,42%, Kalimantan Barat 0,41%, serta Kalimantan Utara 0,38%.

"Temuan simulasi ini memberikan bukti empiris bahwa konektivitas kereta api berpotensi meningkatkan resiliensi pertumbuhan jangka panjang melalui produktivitas regional, memperkuat integrasi ekonomi Kalimantan secara sistemik, sekaligus menekankan urgensi diversifikasi ekonomi," tutup Jajang.

Reporter: Gemilang Ramadhan