Proyeksi ASDP: Pemudik Lebaran 2026 Capai 5,8 Juta Orang
JAKARTA - Menjelang Lebaran 2026, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memproyeksikan pergerakan penumpang mencapai 5,8 juta orang. Angka ini menunjukkan peningkatan 9,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, jumlah kendaraan yang menyeberang diperkirakan menembus 1,4 juta unit atau naik 9,3%. Prediksi ini menjadi dasar perseroan untuk menyiapkan kapasitas dan operasional yang lebih optimal, terutama di jalur strategis Sumatera, Jawa, dan Bali.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menegaskan bahwa kesiapan operasional menjadi kunci kelancaran Angkutan Lebaran 2026. “Dengan strategi terukur, kolaborasi lintas sektor, dan disiplin bersama, ASDP optimistis Angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan lebih tertib, aman, dan berkesan,” ungkapnya melalui keterangan resmi pada Senin 2 Februari 2026.
Penguatan Armada dan Fasilitas di Lintasan Strategis
ASDP memfokuskan penguatan layanan menyeluruh untuk memastikan perjalanan penumpang lebih aman dan nyaman. Perseroan menyiapkan armada dan fasilitas optimal, sekaligus memperkuat kerja sama dengan regulator dan pemangku kepentingan terkait.
Di lintasan Merak-Bakauheni, perseroan menyiapkan 75 kapal yang beroperasi sesuai jadwal regulator. Untuk mendukung mobilitas kendaraan dan penumpang, ASDP menambah Dermaga Ekspres di Pelabuhan Merak menjadi dua dermaga, meningkatkan kapasitas dermaga di Pelabuhan Ciwandan, serta menyiapkan pelabuhan contingency seperti Krakatau Bandar Samudera (KBS) Cilegon dan Pelabuhan Panjang-Bandar Lampung. Yossianis menjelaskan, “Langkah antisipatif ini dirancang untuk menjaga kelancaran operasional saat puncak arus kendaraan dan penumpang.”
Sementara itu, di lintasan Ketapang-Gilimanuk, ASDP menyiagakan 56 kapal. Kapasitas layanan ditingkatkan dengan penambahan kapal besar dari lima unit menjadi tujuh unit. Langkah ini tidak hanya meningkatkan daya angkut, tetapi juga mempercepat rotasi kapal, sehingga waktu tunggu bagi penumpang dapat ditekan selama periode tersibuk Angkutan Lebaran.
Manajemen Arus dan Buffer Zone
Selain memperkuat kapasitas armada, ASDP juga fokus pada manajemen arus penumpang dan kendaraan. Perseroan mengoptimalkan pola operasional Tiba–Bongkar–Berangkat saat kondisi padat, yang didukung pemantauan real time melalui Port Operational Control Center.
Evaluasi buffer zone menjadi perhatian penting untuk mengantisipasi kepadatan di pelabuhan. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, ASDP memperkuat koordinasi dengan Kepolisian dan Badan Usaha Jalan Tol agar buffer zone berfungsi efektif sebagai area penyangga dan pengendali kepadatan, baik ketika pelabuhan lengang maupun saat lonjakan arus terjadi.
Transformasi Digital dan Kemudahan Layanan
Transformasi digital menjadi tulang punggung pengelolaan arus Angkutan Lebaran. Sistem tiket daring Ferizy dioptimalkan di seluruh lintasan, dilengkapi fasilitas tambahan seperti Ferizy Lounge untuk kenyamanan penumpang. Tiket dapat dipesan mulai H-60 sebelum keberangkatan, sehingga masyarakat diimbau merencanakan perjalanan sejak dini dan datang sesuai jadwal.
Selain itu, ASDP menyediakan fleksibilitas melalui kebijakan refund dan reschedule, memungkinkan pengguna jasa menyesuaikan rencana perjalanan jika terjadi perubahan operasional demi keselamatan penyeberangan.
Antisipasi Cuaca Ekstrem
Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, ASDP mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi monsun Asia masih aktif, yang berpotensi meningkatkan curah hujan dan dinamika perairan. Kesiapan ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memastikan perjalanan penumpang dan kendaraan tetap aman selama Angkutan Lebaran 2026.
Dengan kombinasi penguatan armada, manajemen arus, transformasi digital, dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, ASDP menegaskan komitmennya agar Angkutan Lebaran 2026 berlangsung lancar, tertib, dan memberikan pengalaman positif bagi masyarakat.