Strategi Wali Kota Muhammad Farhan Menjaga Stabilitas Harga Pangan Menjelang Ramadan
JAKARTA – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengambil langkah proaktif untuk memastikan ketenangan masyarakat dalam beribadah. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jawa Barat, Pemkot Bandung memberikan jaminan bahwa harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif aman serta stabil. Upaya pemantauan yang dilakukan secara konsisten di lapangan menunjukkan bahwa fluktuasi harga yang terjadi di pasar-pasar tradisional masih dalam batas yang wajar dan sepenuhnya terkendali.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa tim dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung terus bergerak melakukan pemantauan intensif di berbagai titik pasar. Langkah ini diambil untuk mendeteksi dini jika terjadi anomali harga yang dapat memberatkan ekonomi warga. Berdasarkan evaluasi terkini, belum ditemukan adanya lonjakan harga ekstrem yang berpotensi merusak daya beli masyarakat secara luas di awal Februari ini.
Evaluasi Harga Hortikultura Dan Mitigasi Dampak Cuaca Terhadap Pasokan
Meskipun secara makro kondisi harga pangan terjaga, Wali Kota Muhammad Farhan mengakui adanya dinamika pada komoditas tertentu, khususnya kelompok hortikultura yang sangat sensitif terhadap curah hujan. Namun, ia memastikan bahwa kenaikan tersebut bukanlah fenomena krisis harga, melainkan penyesuaian pasar yang masih logis akibat faktor cuaca.
“Secara umum harga masih terkendali. Memang ada sedikit kenaikan pada beberapa komoditas hortikultura seperti cabai akibat faktor cuaca, tetapi masih dalam batas wajar dan tidak melonjak tajam,” ujar Farhan pada Minggu 1 Februari 2026.
Data terperinci dari Disdagin Kota Bandung menunjukkan bahwa cabai rawit merah saat ini dibanderol pada kisaran Rp58.000 per kilogram. Walaupun terdapat kenaikan sekitar Rp9.000 dari periode sebelumnya, angka ini masih jauh di bawah rekor lonjakan harga tahun lalu yang sempat menyentuh angka Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Farhan menambahkan, “Kalau dibandingkan saat saya melakukan sidak bersama Disdagin dan Bulog beberapa waktu lalu, justru kondisi sekarang lebih stabil.”
Ketahanan Harga Sektor Protein Hewani Dan Kelancaran Jalur Distribusi Logistik
Berita baik juga datang dari sektor protein hewani yang biasanya menjadi penyumbang inflasi utama menjelang Ramadan. Pemkot Bandung mencatat bahwa hingga akhir Januari 2026, harga daging dan telur di pasaran masih menunjukkan tren yang datar dan normal. Tidak ada gejolak signifikan yang dilaporkan dari para pedagang maupun konsumen di tingkat pasar tradisional.
Berdasarkan data resmi, harga daging sapi saat ini berada di level Rp140.000 per kilogram, disusul daging ayam ras pada angka Rp38.000 per kilogram, serta telur ayam yang stabil di harga Rp29.000 per kilogram. “Untuk sektor perdagingan relatif aman. Tidak ada gejolak harga yang signifikan,” tutur Farhan menjelaskan kondisi lapangan.
Selain masalah harga, aspek kelancaran logistik juga menjadi perhatian utama menyusul adanya bencana longsor di wilayah tetangga, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Farhan memastikan bahwa insiden tersebut tidak sampai memutus urat nadi distribusi pangan menuju Kota Bandung. Ia menjamin bahwa stok dari para distributor tetap mengalir lancar ke pasar-pasar sehingga ketersediaan barang tetap melimpah. “Distribusi dari distributor aman. Tidak ada gangguan pasokan ke Kota Bandung,” katanya dengan optimis.
Komitmen Pemerintah Kota Bandung Dalam Menekan Potensi Inflasi Jelang Lebaran
Bagi Wali Kota Farhan, stabilitas harga pangan bukan sekadar angka statistik, melainkan kunci bagi kenyamanan sosial masyarakat dalam menyambut bulan penuh berkah. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga ritme harga ini tidak hanya sampai Ramadan, tetapi terus berlanjut hingga hari raya Idulfitri mendatang. Kehadiran pemerintah di tengah pasar diharapkan mampu memberikan rasa tenang bagi para kepala keluarga dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.
“Kami tidak ingin masyarakat Bandung menghadapi Ramadan dengan kecemasan soal harga pangan. Pemerintah hadir untuk memastikan pasokan aman, harga terkendali, dan daya beli warga tetap terjaga,” tegas Farhan. Pernyataan ini menjadi instruksi bagi seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk tetap waspada dan tidak lengah terhadap spekulan yang mungkin memanfaatkan momentum hari besar keagamaan.
Implementasi Bazar Murah Utama Di Seluruh Kecamatan Sebagai Instrumen Konkret
Sebagai bentuk nyata dari kehadiran pemerintah, Pemkot Bandung telah menyiapkan skema intervensi pasar melalui program Bazar Murah Utama (Bazmut). Program ini tidak hanya dipusatkan di tengah kota, melainkan akan disebar secara merata di 30 kecamatan yang ada di wilayah Kota Bandung. Tujuannya jelas: mendekatkan akses pangan murah langsung ke pemukiman penduduk.
Bazmut dirancang untuk menjadi jaring pengaman ekonomi yang menekan potensi inflasi dari sisi konsumen. Dengan menyediakan kebutuhan pokok di bawah harga pasar, pemerintah berharap dapat menstabilkan ekspektasi harga di masyarakat. “Bazar murah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi instrumen konkret untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Kami ingin warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” pungkas Farhan mengakhiri penjelasannya.