JAKARTA - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menjalankan berbagai strategi untuk mempertahankan kualitas penyaluran pembiayaan di tengah dinamika kondisi perekonomian yang menantang.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, mengungkapkan bahwa perusahaan senantiasa menjaga kualitas penyaluran pembiayaan lewat proses yang prudent serta selaras dengan profil risiko yang bisa diterima oleh perusahaan.
Sylvanus Gani menjelaskan bahwa langkah tersebut telah dimulai sejak tahap awal proses akuisisi, salah satunya dengan menerapkan underwriting yang selektif. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan profil konsumen, kemampuan dalam membayar, hingga kualitas agunan atau collateral base.
"Selain itu, perusahaan juga terus memperkuat proses penagihan dan pengelolaan kualitas portofolio melalui optimalisasi tim collection, pemantauan yang lebih intensif, serta strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing konsumen," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber, Kamis (7/5).
Melalui penerapan langkah-langkah tersebut, Sylvanus Gani merasa optimistis bahwa Adira Finance tetap mampu mengambil peluang pertumbuhan yang tersedia. Di waktu yang bersamaan, ia menyebut bahwa perusahaan juga dapat menjaga kualitas aset, termasuk NPF serta risiko pembiayaan agar tetap dalam kondisi terkendali.
"Dengan demikian, pertumbuhan bisnis tetap sehat dan berkelanjutan," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk langkah ke depan, Sylvanus Gani menyampaikan bahwa Adira Finance akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi ekonomi serta geopolitik. Hal ini bertujuan agar perusahaan dapat menyesuaikan strategi bisnis dan tetap mempertahankan pertumbuhan yang sehat.
Sebagai informasi, Adira Finance membukukan penurunan rasio Non Performing Financing (NPF) gross konsolidasian menjadi 1,9% per Maret 2026, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni sebesar 2,3%.
Adapun perusahaan mencatat piutang pembiayaan yang dikelola hingga Maret 2026 mencapai Rp 64,7 triliun. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 18% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.