BEI Tetapkan Saham WBSA Masuk Konsentrasi Tinggi 95,82 Persen

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:53:03 WIB
Armada truk BSA Logistics menjadi tulang punggung distribusi, ditopang penguatan SDM sebagai strategi jelang IPO. (Foto: BSA)

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengeluarkan pernyataan mengenai adanya satu emiten yang tergolong dalam kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan dengan konsentrasi tinggi. Kondisi HSC ini merujuk pada keadaan di mana sebagian besar saham suatu perusahaan dipegang oleh sekelompok kecil pihak, kelompok, ataupun afiliasi tertentu.

Dalam pengumuman ini, BEI menetapkan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) sebagai saham yang menyandang status HSC. Berdasarkan catatan, level kepemilikan terkonsentrasi pada emiten ini mencapai 95,82% dari total saham WBSA, baik yang berbentuk warkat maupun tanpa warkat.

Penetapan tersebut didasarkan pada metode penghitungan saham HSC dengan merujuk pada data kepemilikan per tanggal 7 Mei 2026. Kendati demikian, otoritas bursa memberikan penegasan bahwa pengumuman ini bukan merupakan indikasi bahwa WBSA telah melanggar regulasi yang ada di sektor Pasar Modal.

"Saham perseroan dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,82% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat WBSA. 

Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang Pasar Modal," ungkap Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang, dalam pengumumannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Baru Sebulan Melantai di Bursa

Jika melihat catatan historisnya, WBSA adalah perusahaan perdana yang mencatatkan sahamnya secara resmi di BEI pada tahun 2026. Pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) perusahaan ini dilakukan pada hari Jumat (10/4/2026).

Emiten yang fokus pada jasa layanan angkutan multimoda ini menawarkan sebanyak 1.800.000.000 lembar saham baru, atau sebanding dengan 20,75% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Pada masa penawaran tersebut, harga perdana dipatok pada angka Rp 168 per lembar saham.

Saat memulai debutnya di pasar modal, nilai saham WBSA langsung melonjak hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) sebesar 34,52% menuju level Rp 226 per saham. 

Melalui proses IPO tersebut, WBSA sukses mengantongi dana segar sebesar Rp 302,4 miliar. Dalam aksi korporasi ini, PT OCBS Sekuritas Indonesia serta PT Semesta Indovest Sekuritas berperan sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Lonjakan Harga Mencapai 700%

Merujuk pada data RTI Business, tren pergerakan saham WBSA memperlihatkan capaian yang sangat signifikan. Semenjak mulai diperdagangkan pada 10 April bulan lalu, saham perseroan terpantau telah meningkat hingga 676,79%.

Imbas dari kenaikan tersebut, saham WBSA lantas dimasukkan ke dalam papan pemantauan khusus dengan skema Full Call Auction (FCA). Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan suspensi atau penghentian sementara perdagangan yang terjadi lebih dari satu hari bursa. 

BEI melakukan suspensi pada WBSA di tanggal 24 April 2026 dikarenakan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang sangat tajam.

Selama menghuni papan pemantauan khusus FCA, saham WBSA tercatat mengalami koreksi sebesar 19,66%. Kini, WBSA diperdagangkan pada posisi Rp 1.305 per saham, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga Rp 226 di awal April 2026.

WBSA juga mencatatkan net foreign buy atau aksi beli bersih oleh investor asing senilai Rp 16,26 miliar semenjak awal perdagangan bulan lalu. Namun, pada sesi penutupan Jumat (8/5/2026), perseroan membukukan net foreign sell atau aksi jual bersih sebesar Rp 87,90 juta.

Terkini