JAKARTA – Indeks MSCI Indonesia telah merilis daftar 10 emiten yang memegang bobot paling besar dalam susunan komposisi terbarunya. Berdasarkan data per April 2026, kelompok 10 besar ini mendominasi dengan perolehan total bobot mencapai 83,36 persen.
Dalam laporan Factsheet MSCI Indonesia Index per 30 April 2026, indeks yang mengukur performa segmen kapitalisasi besar dan menengah di pasar saham Indonesia tersebut tercatat memiliki total 17 konstituen.
Sektor finansial menjadi sektor dengan kontribusi paling dominan dengan bobot mencapai 51,03 persen. Posisi tiga besar ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Jika dirinci lebih mendalam, BCA menempati posisi teratas sebagai konstituen dengan bobot paling besar, yakni 22,14 persen. Peringkat kedua diisi oleh BRI dengan bobot 13,91 persen dan Bank Mandiri di angka 11,18 persen.
Ketiga bank besar ini secara kolektif mengendalikan hampir setengah dari seluruh pergerakan indeks MSCI Indonesia.
Selain perbankan, sektor material turut memberikan dampak signifikan dengan bobot kolektif 14,23 persen. Beberapa emiten sektor ini, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), sukses masuk dalam daftar 10 besar pemilik bobot tertinggi.
Secara fundamental, 10 saham teratas di indeks MSCI Indonesia ini mempunyai rata-rata price to earnings (P/E) forward sebesar 10,09 kali dengan tingkat imbal hasil dividen atau dividend yield pada level 6,14 persen.
Seperti diketahui, pada hari ini, Selasa (12/5/2026), MSCI dijadwalkan merilis pengumuman lanjutan dari informasi yang telah dipublikasikan pada April 2026.
Salah satu aspek yang ditunggu para investor adalah keputusan MSCI terkait penghapusan konstituen saham Indonesia yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi menganggap bahwa berbagai kemungkinan dapat terjadi setelah pengumuman MSCI tersebut.
Sebelumnya, pengumuman pembekuan rebalancing MSCI pada 27 Januari 2026 sempat memberikan tekanan berat bagi pasar Indonesia, di mana IHSG mengalami penurunan berulang kali hingga memicu arus keluar investor asing.
Namun, menurutnya situasi saat ini sudah mengalami perubahan karena OJK bersama BEI dan KSEI telah menerapkan reformasi serta transparansi pasar modal.
“Jadi kami harus mengantisipasi. Tadi saya sampaikan, mungkin bisa menjadi short-term pain, tapi Insyaallah menjadi long-term gain,” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut di Kantor BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berikut adalah 10 konstituen terbesar dalam MSCI Indonesia Index per 30 April 2026:
Bank Central Asia (BBCA): 22,14 persen
Bank Rakyat Indonesia (BBRI): 13,91 persen
Bank Mandiri (BMRI): 11,18 persen
Telkom Indonesia (TLKM): 9,50 persen
Astra International (ASII): 8,25 persen
Amman Mineral Intl (AMMN): 5,05 persen
Bank Negara Indonesia (BBNI): 3,79 persen
GoTo Gojek Tokopedia (GOTO): 3,29 persen
Chandra Asri Pacific (TPIA): 3,13 persen
Bumi Resources Minerals (BRMS): 3,12 persen