Harga Minyak Dunia Turun 2 Persen akibat Ketidakpastian Dialog AS-Iran
JAKARTA - Buramnya prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menggoyang sentimen pasar energi internasional. Kondisi tersebut memicu pelemahan harga minyak mentah dunia berkisar 2% pada penutupan transaksi Kamis (21/5/2026). Menyadur laporan dari Investasi, harga minyak Brent merosot US$2,44 atau 2,3% menuju level US$102,58 per barel.
Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut US$1,90 atau 1,9% ke posisi US$96,35 per barel, yang mengakibatkan keduanya menyentuh titik terendah dalam kurun waktu hampir dua pekan terakhir.
Nilai jual minyak sempat melesat hingga 4% pada sesi perdagangan sesudah beredar kabar mengenai instruksi Pemimpin Tertinggi Iran yang memperkecil peluang terwujudnya kesepakatan instan dengan Amerika Serikat.
Teheran dikabarkan memperketat posisi tawar terhadap tuntutan pengayaan uranium dari Washington, sehingga mempersulit jalannya proses diplomasi.
Tensi di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Iran mendirikan otoritas baru guna memantau Selat Hormuz, rute maritim vital yang mengalirkan sekitar 20% kebutuhan konsumsi minyak dunia sebelum pertikaian pecah. Langkah tersebut melahirkan kekhawatiran besar atas kelancaran pasokan energi global.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berpandangan bahwa rencana penerapan sistem penarikan pungutan di area perairan tersebut berisiko menutup ruang bagi solusi diplomatik.
Walakin, ketegangan sedikit teredam berkat kabar pengiriman delegasi Pakistan yang memosisikan diri sebagai penengah untuk melanjutkan dialog dengan Iran.
Keraguan ini dipandang oleh para pengamat pasar sebagai sebuah siklus berulang di dalam dinamika politik wilayah tersebut. "Situasi seperti ini sudah beberapa kali terjadi dan sering berakhir mengecewakan," kata analis ING sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lembaga keuangan itu memproyeksikan harga minyak Brent akan berada di rerata rentang US$104 per barel pada kuartal yang tengah berjalan ini.
Di pihak lain, UBS justru mengatrol proyeksi harga minyak sebesar US$10, lewat hitungan Brent pada level US$105 dan WTI di angka US$97 pada September mendatang.
Perpaduan antara lonjakan permintaan musiman serta terbatasnya ketersediaan suplai memicu kekhawatiran terjadinya pengetatan pasar yang cukup signifikan dalam beberapa bulan mendatang.
"Situasi seperti ini sudah beberapa kali terjadi dan sering berakhir mengecewakan," kata analis ING sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa kombinasi puncak konsumsi musim panas dan minimnya pasokan baru dari Timur Tengah dapat mendorong pasar minyak masuk “zona merah” pada Juli–Agustus.
Konflik yang meletus semenjak akhir Februari telah memotong pasokan dari Timur Tengah hingga mendekati 10 juta barel per hari, sehingga memaksa negara-negara importir menguras cadangan strategis mereka.
CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Al Jaber memprediksi normalisasi arus minyak di Selat Hormuz akan memerlukan waktu yang relatif lama.
"Arus minyak melalui Selat Hormuz tidak akan kembali normal sepenuhnya hingga 2027, bahkan jika konflik di kawasan segera berakhir," kata Sultan Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) mencatatkan penyusutan cadangan minyak mentah yang melampaui prediksi pasar, termasuk penarikan hampir 10 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve yang menjadi rekor penurunan terdalam dalam sejarah.
Beban terhadap permintaan energi dunia juga kian diperberat oleh sentimen makroekonomi negatif dari Eropa, di mana roda ekonomi zona euro menyusut pada kecepatan tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir imbas lonjakan ongkos energi serta penurunan performa sektor jasa.
Komponen tambahan yang ikut memengaruhi laju pasar saat ini ialah arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam menyikapi situasi ekonomi makro.
"Respons bisnis dan konsumen terhadap tekanan ekonomi akan menentukan apakah The Fed dapat mengabaikan inflasi saat ini atau perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut," kata Thomas Barkin, Presiden Federal Reserve Richmond sebagaimana dilansir dari berita sumber.