Breaking

Asing Borong Saham BUMI 203,8 Miliar Rupiah saat IHSG Melemah

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 22 Mei 2026
Asing Borong Saham BUMI 203,8 Miliar Rupiah saat IHSG Melemah
Ilustrasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) (Foto: NET)

JAKARTA – Aktivitas pembelian selektif atau aksi serok melanda saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Emiten ini menjadi saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing selama dua hari berturut-turut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Investor Daily, penanam modal asing membukukan transaksi beli bersih atau net buy pada saham BUMI di pasar reguler dengan nilai sebesar Rp 203,8 miliar dalam sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/5/2026). Angka pencapaian tersebut menjadi yang paling dominan jika dibandingkan dengan saham-saham lainnya.

Satu hari sebelumnya, tepatnya pada Rabu (20/5/2026), pihak asing juga mencatatkan akumulasi net buy paling besar pada saham emiten yang berada di bawah naungan Grup Bakrie dan Salim ini dengan nilai menyentuh Rp 223,4 miliar.

Momentum aksi borong saham BUMI ini berlangsung di saat pasar saham domestik justru tengah berada dalam tekanan jual yang masif, yang diindikasikan oleh merosotnya posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pergerakan saham BUMI sendiri ditutup melemah 5,2% ke posisi Rp 164 pada sesi perdagangan Kamis (21/5/2026). Akibat koreksi tersebut, nilai saham BUMI tercatat telah terpangkas sebesar 23,3% dalam kurun waktu sepekan terakhir dan merosot 32,2% dalam periode sebulan. Jika dihitung sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (ytd), performa saham BUMI terpantau longsor hingga 55,19%.

Dalam ulasan yang dirilis oleh Maybank Sekuritas, disebutkan bahwa masuknya aliran dana asing yang positif pada saham BUMI dapat menjadi indikasi adanya pembentukan posisi baru bagi smart money. Situasi ini sekaligus membuka potensi bagi terjadinya pembalikan arah tren atau rebound dalam jangka pendek.

Dinamika pergerakan saham Bumi Resources juga ikut terpengaruh oleh beredarnya isu regulasi baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis. 

Kebijakan ini nantinya bakal mewajibkan setiap aktivitas ekspor komoditas dilakukan satu pintu melalui salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia.

Penerapan regulasi anyar tersebut ditujukan untuk menekan potensi praktik manipulasi laporan berupa under-invoicing serta under-accounting. Di samping itu, kebijakan strategis ini diorientasikan agar Indonesia memiliki posisi tawar serta pengaruh yang lebih kuat dalam mekanisme penentuan harga komoditas di tingkat global.

Untuk tahapan awal, kewajiban pelaksanaan ekspor terpusat ini akan menyasar beberapa komoditas utama seperti batu bara, CPO, dan juga ferroalloy. Ketentuan baru ini direncanakan mulai diimplementasikan dalam masa transisi per 1 Juni 2026, sebelum akhirnya diterapkan secara penuh pada 1 September 2026.

Kinerja Keuangan dan Prospek Ekspansi BUMI

Seorang analis dari MNC Sekuritas, Raka Junico, memaparkan pandangannya sebagaimana dilansir dari berita sumber bahwa Bumi Resources memiliki rekam jejak yang cukup teruji dalam hal efisiensi operasional sepanjang beberapa tahun terakhir.

BUMI berhasil mencatatkan perolehan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 28,1 juta, atau mengalami pertumbuhan sebesar 35,2% pada kuartal I-2026. Sejalan dengan itu, pendapatan yang dibukukan perusahaan juga mengalami kenaikan 19,7% hingga mencapai angka US$ 417,7 juta.

Raka mengaku optimistis sebagaimana dilansir dari berita sumber bahwa BUMI akan mampu merealisasikan target perolehan EBITDA yang berimbang antara segmen bisnis batu bara dan non-batu bara pada tahun 2031 mendatang. Keyakinan ini didasari oleh langkah agresif yang diambil perseroan dalam mentransformasikan lini bisnisnya menjadi perusahaan tambang multikomoditas melalui serangkaian aksi korporasi berupa akuisisi.

Sejauh ini, BUMI telah merampungkan akuisisi terhadap saham tambang konsentrat tembaga wolfram serta saham dari tambang emas Jubilee. Langkah teranyar, emiten ini tengah menyusun rencana untuk mencaplok perusahaan tambang lain yang berbasis di Australia, yaitu Loyal Metals.

Langkah ekspansi secara anorganik yang dipacu oleh BUMI ini dinilai sebagai keputusan strategis jangka panjang yang berdampak positif. Melalui penerapan strategi diversifikasi usaha tersebut, risiko akibat fluktuasi harga komoditas—khususnya pada sektor batu bara—diharapkan dapat lebih dimitigasi, sehingga tingkat stabilitas serta kualitas perolehan laba perusahaan dalam jangka menengah hingga jangka panjang dapat menjadi lebih kokoh.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua