Breaking

Saham AS Menanjak Tipis, Dow Jones Tembus Rekor Tertinggi Baru

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 22 Mei 2026
Saham AS Menanjak Tipis, Dow Jones Tembus Rekor Tertinggi Baru
Ilustrasi Dow Jones Menguat sebesar 0,55% (Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) menutup sesi perdagangan Kamis (21/5/2026) dengan torehan penguatan tipis. Pergerakan positif ini didorong oleh penurunan harga minyak mentah serta meningkatnya harapan baik terhadap kelanjutan dialog damai antara pihak AS dan Iran.

Perhatian utama dari para pelaku pasar mengarah pada situasi geopolitik tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya sentimen mengejutkan yang datang dari rilis laporan kinerja keuangan emiten pada periode kali ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 0,55% atau bertambah sebanyak 276,31 poin ke tingkat 50.285,66, yang sekaligus menjadi rekor penutupan tertinggi baru. 

Sementara itu, indeks S&P 500 mengalami apresiasi sebesar 0,17% ke level 7.445,72, dan indeks Nasdaq Composite ikut merangkak naik tipis 0,09% menuju angka 26.293,10.

Aktivitas pergerakan pasar sempat menunjukkan volatilitas pada sesi perdagangan pagi, namun akhirnya mampu berbalik ke zona hijau di paruh kedua perdagangan setelah harga minyak terkoreksi dari level tertingginya pada hari tersebut. 

Sikap para pelaku pasar ini digerakkan oleh informasi terkini terkait dialog AS–Iran yang dikabarkan mulai menunjukkan perkembangan awal, meskipun beberapa poin krusial masih belum mencapai kesepakatan.

Sejumlah isu sensitif itu mencakup perbedaan pandangan terkait program pengayaan uranium oleh Iran serta masalah pengawasan di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi jalur sangat krusial bagi lalu lintas pasokan minyak dunia. 

Penilaian dari investor memperlihatkan bahwa kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap dinamika isu geopolitik. Seiring dengan selesainya periode rilis laporan keuangan kuartalan, perhatian pasar kembali dialihkan pada faktor risiko eksternal, terutama perkembangan konflik dan diplomasi di wilayah Timur Tengah.

Dari pergerakan emiten, saham Walmart merosot sedalam 7,3% setelah perusahaan ritel raksasa global tersebut mengeluarkan proyeksi laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Pihak manajemen ikut menyoroti peningkatan beban biaya, terutama disebabkan oleh tingginya harga bahan bakar, yang berisiko mendorong inflasi di sektor ritel.

Di sisi lain, saham Nvidia mengalami koreksi sebesar 1,8% akibat aksi ambil untung oleh para pemodal, meskipun korporasi tersebut sebelumnya telah memublikasikan proyeksi pendapatan yang solid disertai rencana pembelian kembali saham senilai US$80 miliar. 

Sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran mengenai meningkatnya persaingan di sektor industri semikonduktor. Walaupun demikian, indeks sektoral Philadelphia Semiconductor Index justru berhasil menguat sebesar 1,3%, menggambarkan optimisme pelaku pasar bahwa capaian Nvidia tetap menjadi indikator positif bagi industri chip secara keseluruhan.

Pada sektor teknologi, pergerakan masif terjadi pada kelompok saham komputasi kuantum setelah adanya pemberitaan bahwa pemerintah AS berencana menyuntikkan dana bagi beberapa perusahaan di sektor terkait dengan kompensasi kepemilikan saham.

IBM mencatatkan lonjakan sebesar 12,4% setelah dikabarkan turut serta dalam program baru tersebut. Saham GlobalFoundries melonjak hingga 14,9%, sedangkan D-Wave Quantum melesat tajam sebesar 33,4%. Begitu pula dengan Rigetti Computing yang melonjak 30,6% serta Infleqtion yang menguat sebesar 31,5%.

Sebaliknya, saham Intuit ambles hingga 20% setelah perusahaan penyedia layanan TurboTax tersebut menurunkan estimasi pendapatan tahunan mereka sekaligus mengumumkan program pemutusan hubungan kerja bagi sekitar 17% pegawai tetapnya. Pelemahan ini turut menarik jatuh saham H&R Block yang merosot sebesar 4,8%.

Melihat pada indikator makroekonomi, angka klaim tunjangan pengangguran di AS memperlihatkan penurunan, yang menandakan bahwa situasi pasar tenaga kerja domestik masih berada dalam posisi kokoh. 

Selain itu, tingkat aktivitas manufaktur juga merangkak naik ke posisi tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir pada bulan Mei, dipicu oleh tindakan korporasi dalam menimbun stok persediaan demi mengantisipasi potensi hambatan rantai pasok serta kenaikan harga akibat eskalasi ketegangan geopolitik.

Secara makro, jumlah saham yang mencatatkan kenaikan masih lebih mendominasi dibandingkan dengan saham yang terkoreksi, dengan perbandingan rasio sebesar 1,51 banding 1 di Bursa Saham New York. 

Volume perdagangan yang tercatat menyentuh angka 17,67 milar saham, sedikit berada di bawah rata-rata volume dalam jangka waktu 20 sesi terakhir. 

Meskipun berhasil menyudahi perdagangan di zona hijau, keadaan pasar saat ini dinilai masih berada dalam fase yang rentan, di mana arah pergerakan jangka pendek akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global serta proyeksi arah kebijakan di tingkat dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua