Harga CPO Berpeluang Rebound Berkat Sentimen Biodiesel Domestik

ILUSTRASI, Sawit (Sumber Gambar : Net)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:32:04 WIB

JAKARTA - Nilai komoditas crude palm oil (CPO) kembali bergerak menguat pada penutupan pekan setelah sempat tertekan secara signifikan pada sesi transaksi sebelumnya. Para pelaku pasar saat ini tengah mengamati perpaduan antara sentimen aktivitas ekspor, pergerakan harga minyak mentah global, serta regulasi biodiesel dalam negeri yang diproyeksikan bakal menjadi penentu arah tren CPO pada semester kedua tahun 2026.

Mengacu pada data dari Bloomberg, nilai CPO untuk kontrak Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat sebesar 0,6% menuju angka MYR 4.430 per metrik ton pada hari Jumat (22/5/2026). 

Dalam hitungan mingguan, nilai komoditas ini masih mengindikasikan penguatan sebesar 0,9%, walaupun sempat merosot hingga 2,48% pada sesi perdagangan hari Kamis (21/5/2026). 

Pada waktu yang sama, kontrak untuk bulan Agustus 2026 yang tercatat lebih aktif juga mengalami kenaikan sebesar 0,63% secara harian ke posisi MYR 4.486 per metrik ton.

Akan tetapi pada sesi sebelumnya, kontrak tersebut sempat mengalami koreksi sebesar 2,73% pada transaksi hari Kamis. Dalam skala bulanan, nilai CPO masih mencatatkan penyusutan sebesar 2,03%. Walau begitu, dihitung sejak awal tahun atau year to date (YtD), nilai jual CPO masih mengantongi pertumbuhan persentase sebesar 10,77%.

Seorang analis komoditas sekaligus pendiri dari Traderindo, Wahyu Laksono, memberikan pandangan bahwa fluktuasi yang terjadi di pasar CPO belakangan ini semakin dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasar energi internasional serta dinamika geopolitik global. 

Berdasarkan analisis Wahyu Laksono, pelemahan harga yang berlangsung saat ini dinilai masih berada dalam batasan temporary retracement setelah pada waktu sebelumnya angka tersebut sempat mendekati posisi MYR 4.900 per ton.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wahyu menyampaikan, "Penurunan ini dipicu pelemahan ekspor bulanan, terutama dari data pengiriman Malaysia pada paruh pertama Mei yang turun cukup signifikan akibat melambatnya permintaan dari India dan China," kepada Kontan pada hari Minggu (24/5/2026).

Kendati demikian, Wahyu Laksono berpendapat bahwa penurunan nilai tersebut masih tertahan oleh keadaan fundamental yang terbilang ketat karena pertambahan suplai global tidak berlangsung secara agresif. 

Wahyu Laksono memproyeksikan pergerakan nilai CPO bakal cenderung mendatar atau sideways dalam kurun waktu pendek daripada masuk ke dalam tren penurunan yang panjang (bearish). 

Menurut penuturan Wahyu Laksono, kondisi pasar minyak nabati pada masa sekarang masih teramat sensitif terhadap pergeseran energi global.

Apabila ditinjau dari aspek internal, tekanan terhadap harga disebabkan oleh lesunya angka ekspor bulanan seturut dengan laporan dari Intertek Testing Services (ITS) serta AmSpec, yang terjadi bersamaan dengan fase peningkatan produksi musiman di wilayah Asia Tenggara. 

Sementara dari faktor eksternal, merosotnya nilai minyak mentah dunia ikut menyumbang sentimen kurang baik untuk CPO. Pada saat nilai minyak bumi mengalami pelemahan, nilai ekonomis dari biodiesel yang berbahan dasar kelapa sawit ikut meredup, sehingga menggerus premi risiko energi pada nilai CPO di kancah global.

Meski begitu, keadaan persediaan CPO dianggap masih relatif ketat sehingga mampu menahan kejatuhan harga yang lebih dalam. Di dalam negeri, angka dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperlihatkan bahwa kenaikan konsumsi lokal untuk sektor makanan serta program biodiesel sukses mencegah penumpukan persediaan yang berlebih. 

Sementara di Malaysia, volume cadangan berada di bawah garis rata-rata historis merujuk pada data Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Di samping itu, laju pertumbuhan pasokan global juga dianggap mulai tertahan akibat kendala perluasan area tanam serta kondisi pohon sawit yang sudah berumur.

Wahyu Laksono memandang bahwa regulasi mandatori untuk biodiesel B40 menjadi pilar penyokong utama bagi harga kelapa sawit di dalam negeri, khususnya setelah pihak pemerintah mengambil kebijakan untuk meneruskan penerapan B40 di sepanjang tahun 2026 dan menangguhkan jalannya program B50.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wahyu memaparkan, "Dengan serapan domestik yang stabil di kisaran 15 juta hingga 16 juta kiloliter per tahun, surplus ekspor Indonesia otomatis berkurang sehingga pasokan global menjadi lebih ketat."

Wahyu Laksono turut mengutarakan bahwa perubahan pada tarif pungutan ekspor yang berlaku sejak Maret 2026 juga ikut menyokong kestabilan dana subsidi untuk biodiesel sekaligus menjaga level harga CPO dalam negeri. 

Melangkah ke kuartal III-2026, Wahyu Laksono memprediksikan nilai CPO mempunyai peluang untuk keluar dari masa konsolidasi dan mulai menanjak kembali atau rebound, baik secara perhitungan teknikal maupun faktor fundamental.

Untuk jangka pendek, nilai CPO diproyeksikan bakal bergulir di rentang MYR 4.400 sampai MYR 4.700 per ton, di mana posisi MYR 4.350 bertindak sebagai area support yang kuat. 

Apabila aktivitas permintaan ekspor kembali bergairah dan tingkat produksi berada di bawah ekspektasi pasar karena kendala cuaca, maka harga mempunyai kesempatan untuk menyentuh level MYR 4.750 per ton. 

Sedangkan untuk proyeksi jangka menengah, pergerakan nilai CPO diperkirakan akan berada pada batas MYR 3.900 hingga MYR 4.900 per ton.

Sesuai pandangan Wahyu Laksono, salah satu aspek penting yang harus dicermati oleh pasar saat ini adalah kaitan antara situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, serta kebijakan fiskal terkait ekspor di Indonesia. 

Wahyu Laksono menguraikan bahwa meredanya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berakibat pada turunnya premi risiko pada nilai minyak internasional. Efeknya, nilai CPO ikut terseret turun karena proyeksi ekonomi dari biodiesel menjadi melemah.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wahyu menjelaskan, "Ketika harga minyak dunia turun, nilai ekonomis konversi CPO menjadi biodiesel ikut melemah. Hal ini mendorong aksi profit taking di pasar minyak nabati."

Di luar aspek energi tersebut, para pelaku pasar diharapkan juga tetap memantau perkembangan riil dari sektor produksi pada paruh kedua tahun 2026 serta kelanjutan dari kebijakan penataan ulang pungutan ekspor oleh pemerintah Indonesia.

Reporter: Gemilang Ramadhan