Dampak Geopolitik Global Buat Premi Reasuransi Menyusut 1,43 Persen
JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa perolehan premi reasuransi mengalami penurunan pada kuartal I-2026 di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global yang memberi tekanan terhadap industri reasuransi domestik.
Berdasarkan data resmi OJK hingga Maret 2026, akumulasi premi reasuransi tercatat senilai Rp 7,62 triliun atau merosot sebesar 1,43% secara tahunan (year-on-year/YoY), di mana penyusutan tersebut setara dengan nominal berkisar Rp 110 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan, pergolakan kondisi geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memperberat beban pada sektor bisnis reasuransi sejak awal tahun ini.
“Gejolak geopolitik meningkatkan eksposur risiko, khususnya pada lini usaha yang sensitif terhadap perdagangan global dan energi,” tulis Ogi dalam lembar jawaban tertulis, belum lama ini sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berdasarkan penjelasan Ogi, dinamika tersebut juga memicu peningkatan risiko klaim akibat gangguan pada operasional serta kegiatan perdagangan internasional.
Selain itu, industri reasuransi kini sedang didera tekanan harga premi yang cenderung mengetat atau populer dengan istilah hardening. OJK memberikan catatan bahwa penurunan perolehan premi terjadi di sejumlah lini usaha yang berkaitan langsung dengan bidang energi serta perdagangan global.
Jumlah premi reasuransi pada sektor Rangka Kapal tercatat berkurang sebesar Rp 40 miar atau setara 11,40% YoY. Sementara itu, capaian premi reasuransi pada bidang Energi Onshore mengalami koreksi sebesar Rp 300 miliar atau merosot hingga 17% YoY.
Di waktu yang sama, total premi reasuransi untuk Energi Offshore juga mencatatkan penurunan yang cukup signifikan secara tahunan, yaitu senilai Rp 10 miliar.
Tekanan yang dialami oleh berbagai lini bisnis tersebut dinilai berkaitan erat dengan meningkatnya ketidakpastian global yang memengaruhi operasional perdagangan, jalur pasokan logistik, hingga sektor energi di tingkat internasional.