Diversifikasi Pendanaan, CNAF Rilis Sukuk Rp 900 Miliar

ILUSTRASI, CIMB NIAGA (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 03 Juni 2026 | 12:01:05 WIB

JAKARTA – PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) berhasil merealisasikan penerbitan instrumen pendanaan syariah berupa sukuk dengan nilai mencapai Rp 900 miliar hingga periode Mei 2026.

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance, Ristiawan Suherman, memaparkan bahwa langkah penerbitan ini diambil sebagai bagian dari rencana strategis untuk mendiversifikasi sumber pendanaan yang dimiliki oleh perusahaan. sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Adapun dana hasil penerbitan sukuk tersebut digunakan untuk mendukung pertumbuhan portofolio pembiayaan syariah," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Di samping itu, Ristiawan juga menginformasikan bahwa perseroan sekarang ini berada dalam tahapan proses Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance. 

Melalui program tersebut, target perolehan dana yang dibidik adalah sebesar Rp 5 triliun. Ia menjabarkan bahwa proses penerbitan obligasi ini bakal dijalankan secara bertahap.

Pihak manajemen akan melihat beragam aspek krusial, seperti kebutuhan dana perseroan, situasi di pasar obligasi, hingga pergerakan tingkat suku bunga yang tengah berlaku di pasar. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Selain itu, mempertimbangkan profil jatuh tempo liabilitas perusahaan, serta efisiensi biaya pendanaan dibandingkan dengan alternatif sumber dana lainnya," tuturnya.

Melalui penerapan strategi pengelolaan dana yang bervariasi ini, Ristiawan menilai pihak CNAF bakal mempunyai ruang gerak yang jauh lebih luas dalam memilih instrumen pendanaan yang paling efisien dan kompetitif sesuai situasi pasar. 

Ia menambahkan bahwa langkah strategis ini turut menopang komitmen CNAF dalam mempertahankan struktur permodalan yang sehat, berdaya guna, serta berkelanjutan demi menyokong ekspansi bisnis ke depan.

Di sisi lain, Ristiawan menjelaskan bahwa secara umum, tren pergerakan kupon obligasi sepanjang tahun 2026 ini memperlihatkan arah yang meningkat. 

Hal ini berjalan beriringan dengan fluktuasi suku bunga acuan serta tingkat yield obligasi yang ada di pasar keuangan. Ia juga menyebutkan ada tren di mana para penerbit obligasi korporasi berani menyodorkan tingkat kupon yang lebih tinggi daripada periode sebelumnya demi memikat ketertarikan para investor. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Bagi CNAF, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan waktu penerbitan maupun struktur tenor obligasi," ucapnya.

Ristiawan menegaskan bahwa CNAF bakal terus memantau dengan cermat dinamika yang terjadi di pasar keuangan agar tetap mampu meraih sumber dana dengan biaya yang efisien serta kompetitif. Ia juga menggarisbawahi bahwa penopang pendanaan CNAF tidak cuma bersandar pada instrumen obligasi semata. 

Pihak CNAF memiliki keleluasaan untuk menyelaraskan komposisi sumber dana dari jalur lain, seperti fasilitas pinjaman bank, skema pembiayaan bersama (joint financing), hingga penghimpunan dana melalui pasar modal. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Dengan strategi pendanaan yang terdiversifikasi tersebut, dampak kenaikan kupon obligasi terhadap cost of fund dan kinerja perusahaan dapat dikelola dengan baik," katanya.

Lebih lanjut, Ristiawan mengutarakan bahwa sokongan finansial yang solid dari korporasi induk maupun para kreditur memberikan keleluasaan bagi CNAF untuk bertindak lebih selektif dalam menetapkan momentum yang tepat serta struktur dalam penerbitan obligasi. 

Berkat kondisi tersebut, ia menilai perseroan bisa memaksimalkan peluang untuk mendapatkan alternatif sumber pendanaan yang paling murah sekaligus menjaga agar cost of fund tetap berada di level yang kompetitif.

Sebagai informasi tambahan, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merilis data bahwa realisasi penerbitan surat utang dari sektor perusahaan pembiayaan (multifinance) sudah menembus angka Rp 12,93 triliun per Mei 2026. 

Perolehan angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 19,3%, jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan angka sebesar Rp 10,84 triliun.

Reporter: Gemilang Ramadhan