Premi Unitlink Tumbuh 4,1 Persen Jadi Rp 17,17 Triliun Kuartal I-2026
JAKARTA - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan adanya kenaikan pada performa premi asuransi jiwa dari produk unitlink.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengumumkan bahwa perolehan premi asuransi jiwa untuk produk unitlink menyentuh angka Rp 17,17 triliun di kuartal I-2026.
"Nilainya tumbuh 4,1%, jika dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya," katanya dalam konferensi pers AAJI di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, produk unitlink menyumbang kontribusi premi sebanyak 36,32% dari seluruh total pendapatan premi industri asuransi jiwa yang menyentuh Rp 47,27 triliun di kuartal I-2026.
Albertus Wiroyo menjelaskan peningkatan unitlink ini terbilang menarik lantaran produk tersebut konsisten memegang pangsa pasar yang besar sebagai salah satu opsi proteksi bagi publik.
Albertus Wiroyo menyatakan struktur ini pun memperlihatkan keberagaman dari keperluan para nasabah, sekaligus semakin dewasanya kecenderungan masyarakat saat menentukan produk asuransi yang tepat.
Selanjutnya, Albertus Wiroyo menilai bahwa unitlink mempunyai keunggulan tersendiri karena memuat unsur investasi yang ditujukan bagi kelompok nasabah dengan pemahaman investasi lebih matang. Melalui skema ini, nasabah yang telah mampu mengerti sekaligus menoleransi risiko investasi bakal tertarik pada unitlink.
"Kalau unitlink risiko investasinya ada pada nasabah, plusnya tentu nasabah dapat memperoleh kenaikan investasi yang baik, tetapi juga ada risiko penurunan," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Keadaan yang kontras didapati pada performa premi industri untuk produk tradisional. AAJI mendata, perolehan premi asuransi jiwa dari produk tradisional berada di angka Rp 30,10 triliun pada kuartal I-2026.
Angka ini mengalami penyusutan sebesar 2,9% apabila disandingkan dengan perolehan pada masa yang sama di tahun lalu.
Di sisi lain, produk tradisional menyuntikkan kontribusi sebesar 63,67% bagi keseluruhan pendapatan premi industri asuransi jiwa di kuartal I-2026.
Walaupun menyusut, Albertus Wiroyo memaparkan bahwa produk tradisional tetap menjadi penyokong terbesar bagi performa industri asuransi jiwa. Albertus Wiroyo mengungkapkan hal ini menandakan bahwa publik masih menempatkan keperluan proteksi esensial sebagai prioritas yang utama.
"Kondisi tersebut juga mencerminkan kecenderungan masyarakat mencari manfaat perlindungan yang lebih jelas dan straight forward tanpa dikaitkan dengan unsur investasi. Sebab, tradisional lebih fokus kepada proteksi," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Oleh karena itu, Albertus Wiroyo mengutarakan bahwa kedua varian produk, baik tradisional ataupun unitlink, pastinya memiliki target pasar nasabah yang berlainan. Albertus Wiroyo mengharapkan tiap produk tetap dapat berkembang untuk masa-masa mendatang.