Prospek Unilever Indonesia Masih Menantang pada Tahun 2026

ILUSTRASI, pt unilever indonesia tbk (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 03 Juni 2026 | 12:51:26 WIB

JAKARTA – Prospek kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sepanjang 2026 diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan. Perubahan perilaku konsumen yang beralih ke produk dengan harga lebih murah, tekanan dari biaya bahan baku, serta melemahnya daya beli masyarakat diprediksi masih menjadi penghambat bagi pertumbuhan industri barang konsumsi atau fast moving consumer goods (FMCG).

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, kecenderungan konsumen untuk memilih produk yang harganya lebih terjangkau tetap menjadi tantangan utama bagi Unilever. Di waktu yang sama, UNVR juga harus menghadapi tekanan pada margin akibat naik turunnya biaya input.

Kendati demikian, Nafan melihat bahwa performa Unilever pada tahun ini masih memiliki peluang untuk membaik dari periode lalu, khususnya jika perseroan berhasil mengeksekusi transformasi bisnis yang tengah dijalankan saat ini. 

Seperti yang diketahui, UNVR telah merampungkan pemisahan lini bisnis es krim dan tengah meneruskan rencana pelepasan bisnis teh sebagai bagian dari strategi menukar skala demi fokus bisnis.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kalau Unilever bisa memanfaatkan potensi tersebut, tentunya kinerja Unilever di tahun 2026 ini bisa diproyeksikan lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Nafan berpendapat, tanda-tanda perbaikan tersebut sudah mulai nampak pada kuartal I-2026. Berdasarkan data laporan keuangan, nilai penjualan bersih UNVR berada di angka Rp 8,44 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 2,82% bila dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar Rp 8,21 triliun. 

Selain itu, raihan total laba bersih UNVR melesat hingga 72,99% menjadi Rp 2,14 triliun per kuartal I-2026, angka yang melampaui capaian Rp 1,24 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Nafan berpandangan bahwa lonjakan laba bersih ini menjadi bukti dari efektivitas strategi transformasi struktural yang diterapkan oleh emiten tersebut. 

Pada saat ini, UNVR tengah menitikberatkan perhatian pada efisiensi biaya operasional serta penataan kembali portofolio produk demi mendongkrak profitabilitas. 

Namun begitu, ia tetap memberikan peringatan bahwa masa depan industri FMCG secara umum masih dibayangi oleh rendahnya daya beli masyarakat. Situasi ini menyebabkan pertumbuhan pada sektor konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih.

Jika melihat dari sisi pendorong positif, Nafan menilai bahwa langkah restrukturisasi internal serta transformasi bisnis yang dilakukan oleh perseroan dapat menjadi penggerak utama bagi kinerja di tahun ini. 

Adanya penurunan pada beban operasional diharapkan mampu menyokong stabilitas profitabilitas di tengah gempuran tekanan biaya.

Bukan hanya itu, langkah inovasi pada sektor kemasan yang menjaga produk tetap ekonomis bagi masyarakat kelas menengah ke bawah tanpa merusak kekuatan merek (brand equity) juga dinilai sebagai strategi jitu yang mampu menyokong angka penjualan. 

UNVR pun dianggap mempunyai celah pertumbuhan lewat fokus pada kategori health and beauty yang secara umum menyajikan margin lebih tebal ketimbang kategori produk lainnya. Ditambah lagi, ekspansi pada saluran distribusi digital serta digital commerce berpeluang memperluas jangkauan pasar perseroan.

Adanya faktor musiman diproyeksikan dapat menjadi pendorong tambahan. Nafan menaruh harapan pada momentum lonjakan konsumsi saat masa liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru untuk dapat menyokong tingkat permintaan terhadap produk-produk besutan Unilever.

Namun di sudut lain, beberapa sentimen negatif masih terus membayangi. Lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berisiko menaikkan ongkos bahan baku. 

Di samping itu, kenaikan pada biaya logistik juga berpotensi memperberat tekanan pada harga input. Depresiasi nilai tukar rupiah pun menjadi aspek yang wajib diwaspadai lantaran sebagian bahan baku, khususnya yang berbasis kimia serta kemasan plastik, pemenuhannya masih bertumpu pada jalur impor.

Memperhatikan beragam faktor di atas, jika ditinjau dari sisi rekomendasi saham, Nafan masih menetapkan rating wait and see untuk saham UNVR.

Reporter: Gemilang Ramadhan