ALDO Siapkan Rp10 Miliar dari Kas Internal untuk Buyback Saham
JAKARTA – PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) mempunyai rencana untuk menggelar program pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana maksimal Rp10 miliar. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mengokohkan kepercayaan para investor terhadap prospek masa depan perusahaan.
Agenda buyback ini bakal diajukan terlebih dahulu demi mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang rencananya digelar pada 24 Juni 2026.
Apabila memperoleh persetujuan, aksi korporasi pembelian kembali saham ini akan berjalan selama periode satu tahun, terhitung sejak 24 Juni 2026 sampai dengan 23 Juni 2027.
Merujuk pada keterbukaan informasi yang dirilis oleh emiten pada Selasa (2/6), pihak manajemen memberikan kepastian bahwa program buyback yang baru ini tidak akan bertabrakan dengan program pembelian kembali saham terdahulu yang segera rampung pada 11 Juni 2026.
Pihak manajemen ALDO mengungkapkan bahwa pergerakan korporasi ini diharapkan mampu mempertahankan kewajaran harga saham di pasar modal sekaligus memperkuat stabilitas perdagangan saham emiten.
"Pembelian kembali saham ini diharapkan dapat menjaga kewajaran harga saham dan meningkatkan stabilitas yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap kinerja perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Perusahaan memproyeksikan proses buyback ini akan dilewati melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), baik pada pasar reguler maupun pasar negosiasi.
Nilai pembelian saham dipastikan tidak bakal melewati harga penutupan perdagangan pada hari sebelumnya, selaras dengan regulasi yang berlaku.
Demi membiayai aksi korporasi ini, Alkindo bakal memakai dana yang berasal dari kas internal perusahaan tanpa menggunakan pinjaman ataupun dana dari hasil penawaran umum. Pihak perseroan menganggap situasi finansial saat ini sangat mencukupi untuk membiayai jalannya buyback sekaligus mempertahankan perputaran operasional bisnis.
Manajemen pun memaparkan bahwa jalannya buyback ini diprediksi tidak bakal memberikan efek yang material terhadap laba per saham maupun pendapatan emiten.
Di sisi lain, ongkos transaksi yang muncul dari berjalannya program ini dipatok paling tinggi sebesar 0,33 persen untuk tiap aktivitas transaksi pembelian.
Lebih jauh lagi, perusahaan optimis bahwa program pembelian kembali saham tersebut tidak akan mengganggu aktivitas usaha maupun target ekspansi bisnis.
Hal ini didasari oleh posisi modal kerja serta arus kas emiten yang dipandang sangat kuat untuk menyokong operasional dan pengembangan usaha ke depan.