Invest ASEAN 2026: Investor Rp 93 Kuadriliun Bidik Pasar Asia Tenggara

ILUSTRASI, Invest ASEAN 2026 menyoroti transisi energi, perubahan rantai pasok, dan transformasi digital berbasis AI di Asia Tenggara. (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 08 Juli 2026 | 13:49:54 WIB

JAKARTA – Ketertarikan investor global terhadap wilayah ASEAN dinilai masih sangat besar di tengah situasi ekonomi dunia yang tidak menentu. Kondisi tersebut ditunjukkan melalui kehadiran berkisar 200 investor institusi serta nasabah prime brokerage yang mengelola total aset mencapai US$ 23 triliun atau setara Rp 93 kuadriliun dalam kegiatan Invest ASEAN 2026 yang diselenggarakan oleh Maybank Investment Banking Group (Maybank IBG) di Singapura pada 7-8 Juli.

Memasuki pelaksanaan yang ke-13, ajang investasi tahunan ini mempertemukan para penanam modal dengan 54 perusahaan yang berasal dari enam negara di Asia Tenggara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Vietnam, ditambah India. 

Bukan hanya itu, agenda ini pun menghadirkan satu sovereign wealth fund sekaligus menjembatani dialog dengan sejumlah instansi pemerintah berskala penting di Singapura. 

Seluruh korporasi yang ikut serta mempunyai akumulasi kapitalisasi pasar hingga US$ 553 miliar. Penentuan peserta dilakukan bersandarkan atensi investor, meliputi emiten skala menengah hingga besar, mempunyai kesiapan berdialog dengan pemodal dunia, serta masuk dalam lini riset Maybank IBG. 

Berbagai korporasi itu merepresentasikan lini sektor strategis, dari perbankan, teknologi, konsumer, kesehatan, manufaktur, sampai energi terbarukan.

Chief Executive Officer Maybank Investment Banking Group, Michael Oh-Lau, mengutarakan bahwa tingginya angka keikutsertaan dalam Invest ASEAN kali ini memperlihatkan keyakinan para pemodal terhadap prospek masa depan kawasan, sebagaimana dilansir dari berita sumber: "Kehadiran peserta tahun ini melampaui ekspektasi kami, mencerminkan minat yang tetap kuat dari investor global maupun domestik terhadap ASEAN, yang terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global,” ujar dia dalam rilis Selasa (7/7/2026).

Dia menyambung, di pergelaran yang ke-13 ini, Invest ASEAN Maybank secara kontinu menjembatani pemodal dengan korporasi, sekaligus menyajikan analisis serta pandangan yang mendalam guna merespons dinamika lingkungan global yang terus berputar. 

Berdasarkan penjelasan Michael, titik berat Invest ASEAN kali ini mencakup proses transisi energi, perubahan peta rantai pasok dunia, serta langkah transformasi digital yang disokong oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). 

Ketiga aspek pergerakan tersebut diprediksi bakal konsisten menjadi pendorong utama bagi kemajuan wilayah ini dalam beberapa tahun ke depan.

Selaras dengan kondisi ekonomi yang berangsur membaik, kelompok riset Maybank mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi bagi ASEAN-6 menjadi 4,7% dari yang sebelumnya dipatok pada angka 4,5% pada Maret yang lalu. Sementara untuk target pertumbuhan pada tahun 2027 tetap dijaga pada posisi 4,7%. 

Pihak Maybank menganalisis bahwa peningkatan prospek tersebut didorong oleh penurunan harga minyak dunia yang sudah mendekati posisi sebelum terjadinya perang, serta arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang mulai pulih kembali.

Melihat dari sudut pandang Indonesia, Managing Director Investment Banking and Advisory Maybank Sekuritas, Wiwiek Susanto, memberikan pandangan bahwa kondisi fundamental ekonomi dalam negeri masih menyajikan potensi investasi yang sangat menjanjikan bagi para pelaku pasar internasional, sebagaimana dilansir dari berita sumber: "Kami senang dapat menampilkan berbagai peluang investasi Indonesia di Invest ASEAN dengan mempertemukan perusahaan-perusahaan terkemuka Indonesia dengan investor global. Di tengah lingkungan global yang semakin tidak pasti, fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia yang kuat terus menawarkan peluang menarik bagi para investor,” kata Wiwiek.

Sebagai bagian dari institusi investment banking terdepan di kawasan ASEAN, Maybank menyatakan berada di posisi yang sangat tepat untuk menyokong target-target pertumbuhan ekonomi Indonesia lewat kapabilitas di pasar modal, kapasitas advisory strategis, hingga akses jaringan menuju pemodal internasional. 

Pihak Maybank membuat estimasi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menyentuh angka 5,0% di tahun 2026 dan akan merangkak naik ke posisi 5,2% pada tahun 2027. 

Walaupun laju pertumbuhan di paruh kedua tahun 2026 diprediksi berjalan lebih lambat lantaran berkurangnya sokongan stimulus fiskal serta tingkat suku bunga yang masih berada di posisi tinggi, sektor ekspor komoditas beserta investasi publik diyakini akan tetap menjadi pilar utama penopang ekonomi.

Di sisi lain, tingkat inflasi diestimasikan berada di angka rata-rata 3,5% untuk tahun 2026 dan akan melandai ke level 3,0% pada tahun 2027. 

Untuk defisit transaksi berjalan diproyeksikan bakal mengalami pelebaran secara moderat ke posisi 1,0% dari PDB sebagai dampak dari kenaikan biaya impor yang mengimbangi perolehan keuntungan dari jalur ekspor komoditas.

Pada sektor pasar modal, Maybank masih memegang pandangan yang penuh kehati-hatian namun tetap konstruktif terhadap pergerakan saham di Indonesia. 

Target untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penghujung tahun 2026 disesuaikan menjadi 7.500 dari estimasi sebelumnya di level 8.400, beriringan dengan prediksi melambatnya pertumbuhan laba korporasi serta dinamika regulasi yang masih terus bergulir.

Kendati demikian, Maybank mempunyai keyakinan bahwa tingginya permintaan domestik, akselerasi proyek infrastruktur, serta kekuatan fundamental makroekonomi akan terus menjadi motor penggerak bagi ekspansi jangka panjang. 

Ketetapan arah kebijakan dari pemerintah ditambah hasil ulasan yang positif terkait peringkat utang negara serta indeks pasar dinilai berpeluang besar memperkuat kepercayaan para pelaku investasi.

Terkait dengan langkah strategi investasinya, Maybank memposisikan sektor keuangan, kesehatan, bahan bangunan, otomotif, serta beberapa lini sektor yang terafiliasi dengan komoditas sebagai opsi prioritas utama di pasar modal Indonesia.

Reporter: Gemilang Ramadhan