Breaking

MYOR Fokus Jual Produk Single Pack Hadapi Tekanan Daya Beli

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 08 Juli 2026
MYOR Fokus Jual Produk Single Pack Hadapi Tekanan Daya Beli
ILUSTRASI, MYOR fokus tingkatkan penjualan produk single pack untuk menyiasati tekanan daya beli. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Emiten Fast Moving Consumer Goods (FMCG), PT Mayora Indah Tbk (MYOR) masih memelihara sikap optimistis mengenai prospek bisnis mereka pada paruh kedua tahun 2026. Manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa memasuki awal semester kedua ini, belum terlihat adanya pergeseran tren permintaan yang signifikan jika dikomparasikan dengan semester pertama 2026.

Meski begitu, produsen makanan dan minuman ini tidak menampik adanya tekanan pada daya beli masyarakat yang berimplikasi pada meningkatnya sensitivitas konsumen terhadap harga serta berubahnya perilaku berbelanja. 

Guna menyiasati situasi tersebut, Mayora Indah menyiapkan langkah strategis berupa peningkatan penjualan produk dalam kemasan tunggal atau single pack.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Pada umumnya tekanan daya beli ini membuat konsumen lebih sensitif terhadap harga dan dapat mengubah preferensi konsumen, mereka condong untuk membeli produk-produk single pack dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar manajemen Mayora, Senin (6/7/2026).

Menyikapi dinamika yang berkembang, Mayora Indah memutuskan untuk belum merevisi target performa keuangan yang sudah dicanangkan sejak awal tahun. 

Pihak manajemen konsisten memegang panduan target penjualan maupun keuntungan bersih untuk periode 2026. Merujuk pada catatan sebelumnya, MYOR membidik angka penjualan di nominal Rp 41,85 triliun dan perolehan laba bersih senilai Rp 3,41 triliun sepanjang tahun 2026.

Mengenai kebijakan harga, MYOR memilih untuk tidak menaikkan harga jual produk di tengah tingginya sensitivitas pasar. Kebijakan ini dapat diambil lantaran harga bahan baku saat ini terpantau relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan manajemen, situasi harga komoditas saat ini masih memberikan ruang yang menguntungkan bagi margin keuntungan perusahaan. 

Sebagai contoh, harga kakao per Juni 2026 memang merangkak naik akibat tingginya curah hujan yang menurunkan volume hasil panen. 

Namun, bila disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga pada Juni tahun ini masih berada di bawah rata-rata harga sepanjang tahun 2025.

Sementara untuk komoditas kopi, saat ini tengah memasuki masa panen raya (harvest season). Momentum ini dimanfaatkan manajemen untuk mengamankan pasokan bahan baku kopi dalam jumlah yang cukup demi memenuhi kebutuhan produksi mendatang.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Dari sisi harga, cukup stabil, meski ada sedikit kenaikan karena di Juni ini curah hujan tinggi, akan tetapi berdasarkan forecast, cuaca kering itu akan terjadi bulan Juli yang mana itu bagus untuk panen mendatang. Sehingga kami expect bahwa harga akan stabil,” jelas Manajemen.

Di samping itu, MYOR turut mengaplikasikan bauran strategi lain, seperti memasarkan produk dengan harga yang lebih ekonomis, memperluas jangkauan penetrasi pasar, serta menjalankan aktivitas pemasaran secara lebih terfokus.

Beralih ke anggaran belanja modal atau capital expenditure (Capex), MYOR menegaskan tidak ada perubahan pada rencana alokasi investasi tahun ini. 

Realisasi penyerapan dana Capef hingga semester II-2026 diinformasikan masih bergulir tepat waktu sesuai perencanaan semula. 

Menatap prospek ke depan, manajemen MYOR memandang faktor makroekonomi yang berisiko menekan tingkat konsumsi masyarakat sebagai tantangan utama yang wajib diwaspadai.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua