Mentan Andi Amran Tegaskan Strategi Modernisasi Dorong Kesejahteraan Petani Nasional
- Kamis, 19 Februari 2026
JAKARTA - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan strategi percepatan swasembada pangan terus diperkuat.
Hal ini seiring capaian stok beras nasional tertinggi sepanjang sejarah. Pemerintah menekankan bahwa kombinasi kebijakan dan transformasi pertanian menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Menurutnya, terdapat dua langkah utama untuk mencapai target swasembada, yakni penyederhanaan regulasi serta percepatan transformasi pertanian dari pola tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi dan efisiensi. Langkah ini menjadi fondasi bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Pemerintah menekankan pentingnya keberlanjutan dalam seluruh rantai produksi pangan.
Baca JugaStrategi Jitu Broker Properti Agar Tetap Eksis Di Tengah Persaingan Bisnis Sengit
“Langkah kami ada dua untuk mencapai swasembada, yaitu deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern,” ungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan perubahan nyata di sektor pertanian. Transformasi ini bukan sekadar teori, tetapi praktik yang sudah berjalan.
Penyederhanaan Regulasi Tingkatkan Efisiensi
Sepanjang satu tahun terakhir, pemerintah telah menerbitkan 13 peraturan presiden di sektor pertanian. Selain itu, sekitar 500 regulasi internal yang menghambat percepatan program dicabut. Reformasi ini terutama berdampak pada tata kelola pupuk dan distribusi yang lebih cepat kepada petani.
“Dahulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” jelas Menteri Pertanian. Penyederhanaan proses ini menurunkan biaya pupuk hingga 20% dan meningkatkan volume distribusi sebesar 700.000 ton. Semua langkah ini dilakukan tanpa menambah beban anggaran negara.
Reformasi regulasi juga memberikan kepastian bagi petani dalam perencanaan tanam. Dengan prosedur yang lebih sederhana, risiko keterlambatan pupuk atau input pertanian lain bisa diminimalisir. Hal ini sekaligus memperkuat basis swasembada pangan nasional.
Transformasi Pertanian dari Tradisional ke Modern
Transformasi pertanian dilakukan melalui mekanisasi, digitalisasi, serta pemetaan lahan berbasis teknologi. Modernisasi ini meningkatkan efisiensi tenaga kerja hingga 90% dan mempercepat masa tanam serta panen. Indeks pertanaman pun meningkat dari satu kali menjadi tiga kali setahun.
“Efisiensi tersebut menurunkan biaya produksi hingga 50% dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani,” ujarnya. Penggunaan teknologi modern membuat petani lebih fokus pada produktivitas dan kualitas hasil panen. Dengan sistem ini, ketahanan pangan menjadi lebih terjamin dan stabil.
Transformasi juga mendorong pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini bisa diolah secara efisien. Dengan pendekatan modern, swasembada pangan bukan lagi sekadar target, tetapi realitas yang terukur.
Dampak Positif Kebijakan Terhadap Ekonomi Petani
Dampak kebijakan deregulasi dan transformasi pertanian tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125, tertinggi sepanjang sejarah. Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram turut mendorong perputaran ekonomi hingga Rp 132 triliun di tingkat petani.
Semua indikator ini menunjukkan efek nyata dari program pemerintah.
Selain itu, modernisasi dan deregulasi memperkuat kapasitas produksi nasional. Petani memiliki kepastian pasokan input dan harga yang stabil, sehingga bisa merencanakan musim tanam lebih baik. Kombinasi ini menumbuhkan optimisme bagi sektor pertanian ke depan.
Peningkatan kesejahteraan petani juga menjadi indikator keberhasilan swasembada. Dengan NTP tinggi, petani memperoleh daya beli lebih baik dan mampu meningkatkan kualitas hidup. Kebijakan yang berpihak pada petani sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Optimalisasi Lahan dan Ekspansi Pangan Nasional
Untuk memperkuat ekspansi jangka panjang, pemerintah mengakselerasi optimalisasi lahan rawa. Revitalisasi 200.000 hektare lahan di Kalimantan dengan sistem irigasi modern menjadi tahap awal pengembangan kawasan pangan baru. Langkah ini diharapkan membuka peluang produksi tambahan secara signifikan.
Produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,7 juta ton, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya. Cadangan beras pemerintah di Perum Bulog menembus 4,2 juta ton. Angka ini menegaskan kemampuan pemerintah dalam menjaga stok nasional dan menjamin ketahanan pangan.
Dengan kombinasi deregulasi, modernisasi, serta penguatan kebijakan harga yang berpihak kepada petani, sektor pangan menjadi jangkar stabilitas ekonomi nasional. Strategi ini sekaligus membangun fondasi swasembada pangan berkelanjutan menuju 2026 dan seterusnya.
Pemerintah memastikan semua langkah diambil dengan memperhatikan kesejahteraan petani dan keberlanjutan produksi pangan.
Alif Bais Khoiriyah
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
Informasi Jadwal Lengkap KRL Solo Jogja Hari Kamis 19 Februari 2026
- 19 Februari 2026
2.
3.
Jasa Marga Laporkan 965 Ribu Kendaraan Melintas Saat Libur Imlek
- 19 Februari 2026








