Pengusaha Mamin Desak Roadmap Untuk Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku
- Kamis, 19 Februari 2026
JAKARTA - Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia menghadapi tantangan besar terkait ketergantungan pada bahan baku impor.
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menilai bahwa untuk dapat mengurangi ketergantungan ini, Indonesia membutuhkan sebuah roadmap yang jelas dan terintegrasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Ketergantungan terhadap impor, menurut Gapmmi, membuat industri mamin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan perubahan kebijakan perdagangan global.
Baca JugaDanantara Fokus Penguatan Keselamatan Transportasi di Koto Baru
Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman, menekankan bahwa meskipun sektor mamin diharapkan dapat menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 8%, kenyataannya bahan baku utama untuk sektor ini masih sangat bergantung pada impor.
“Kita ingin menyerap dari dalam negeri, tapi perkembangan di hulu lebih lambat dibandingkan kebutuhan industri, sehingga kita makin tertinggal dan makin banyak butuh bahan baku impor,” ungkap Adhi.
Tantangan Ketergantungan Impor pada Sektor Mamin
Menurut Gapmmi, hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah bahan baku utama industri mamin. Komoditas strategis seperti gula, gandum, susu, jagung pangan, kedelai, dan garam industri hampir sepenuhnya berasal dari luar negeri.
Data Gapmmi menunjukkan bahwa hampir 100% gula dan gandum diimpor, sekitar 80% susu, 90% jagung pangan, dan sekitar 70% kedelai juga berasal dari luar negeri. Sementara itu, garam industri juga masih sekitar 70% bergantung pada pasokan impor.
Kondisi ketergantungan yang sangat tinggi ini, menurut Adhi, sangat mengkhawatirkan, terutama ketika industri mamin diminta untuk tumbuh lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika ketergantungan pada impor terus berlanjut tanpa adanya upaya strategis untuk memperkuat kapasitas produksi domestik, maka ketergantungan ini bisa semakin dalam dan menjadi polemik yang berulang setiap tahunnya.
Regulasi Impor yang Menghambat Pertumbuhan Industri
Salah satu isu yang diangkat oleh Adhi adalah regulasi impor yang ketat, seperti larangan dan pembatasan (lartas), yang diterapkan pemerintah. Meskipun kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri, ia berpendapat bahwa jika tidak disinkronkan dengan kebutuhan industri, aturan tersebut justru dapat menghambat produksi.
“Regulasi yang ketat memang baik untuk menjaga kedaulatan pangan, tetapi jika tidak disesuaikan dengan kebutuhan industri, ini akan menghambat produksi,” ujar Adhi.
Adhi menyarankan bahwa solusi yang dibutuhkan bukan hanya pelonggaran regulasi impor, tetapi juga pembuatan peta jalan (roadmap) yang jelas untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku. Roadmap tersebut harus dapat menyinkronkan sektor hulu dan hilir, serta mencakup strategi yang terintegrasi untuk memperkuat kapasitas produksi domestik dalam jangka panjang.
“Kita perlu bikin roadmap yang jelas, lima tahun ke mana, sepuluh tahun ke mana. Yang penting kita harus mendukung perkembangan hulunya supaya secara bertahap bisa mengurangi ketergantungan impor,” ungkapnya.
Pentingnya Roadmap untuk Kemandirian Industri Mamin
Gapmmi menegaskan bahwa roadmap yang dimaksud harus mencakup dua aspek penting: jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, sektor hulu perlu didorong agar dapat mempercepat produksi bahan baku domestik, sedangkan dalam jangka panjang, pengembangan dan diversifikasi sumber bahan baku harus dilakukan untuk memastikan ketahanan pangan nasional.
Selain itu, roadmap tersebut harus memuat rencana strategis untuk mendukung ketersediaan bahan baku, logistik, dan infrastruktur yang dibutuhkan oleh industri mamin.
Tanpa dukungan yang memadai dalam hal ini, akan sangat sulit bagi sektor mamin untuk berkembang dan berkontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau industri disuruh tumbuh tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%, kita siap. Tapi harus disediakan sumber daya industrinya, baik bahan baku, logistik, maupun infrastruktur,” tegas Adhi.
Hal ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan industri mamin, dengan memastikan bahwa bahan baku domestik tersedia secara cukup dan terjangkau.
Peluang untuk Pengembangan Industri Pangan Lokal
Kehadiran roadmap yang terintegrasi juga diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi pengembangan industri pangan lokal. Menurut Adhi, sektor hulu, seperti pertanian dan peternakan, perlu ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan bahan baku untuk industri mamin secara berkelanjutan.
Ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak, serta mengurangi risiko gangguan pasokan bahan baku yang sering terjadi akibat ketergantungan pada negara lain.
Sebagai contoh, Gapmmi juga mengingatkan adanya potensi gangguan pasokan komoditas pangan penting, seperti susu, telur, dan ayam, jika tidak ada langkah strategis yang terkoordinasi.
Oleh karena itu, sektor industri mamin membutuhkan perhatian yang lebih serius untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku yang penting tersebut. Jika dikelola dengan baik, pengembangan sektor hulu dapat menjadi solusi jangka panjang yang mendukung kemandirian industri pangan Indonesia.
Pentingnya Kolaborasi dalam Memperkuat Sektor Mamin
Untuk mewujudkan kemandirian industri mamin, Indonesia membutuhkan roadmap yang jelas dan terencana untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.
Hal ini hanya dapat dicapai jika ada sinkronisasi yang baik antara sektor hulu dan hilir, serta dukungan penuh dari pemerintah dalam hal kebijakan, infrastruktur, dan penguatan kapasitas produksi domestik.
Dengan langkah yang tepat, sektor mamin tidak hanya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi perkembangan sektor pangan lokal yang lebih mandiri.
Dengan roadmap yang tepat dan implementasi yang konsisten, industri makanan dan minuman Indonesia dapat tumbuh lebih besar dan lebih kuat, tanpa ketergantungan yang terlalu besar pada bahan baku impor. Ini akan membawa dampak positif tidak hanya bagi industri mamin, tetapi juga untuk sektor pertanian dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Harga Buyback Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian 19 Februari 2026
- Kamis, 19 Februari 2026
Berita Lainnya
Daftar Menu Sahur Kilat Di Bawah Sepuluh Menit Yang Murah Dan Praktis
- Kamis, 19 Februari 2026
Dua Puluh Satu Ide Jualan Takjil Ramadan 2026 Paling Laris Menguntungkan
- Kamis, 19 Februari 2026
Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026 Untuk Wilayah Kota Medan Dan Sekitarnya Resmi Rilis
- Kamis, 19 Februari 2026
Daftar Sepuluh Negara Dunia Yang Memangkas Jam Kerja Selama Ramadan 2026
- Kamis, 19 Februari 2026
Terpopuler
1.
Danantara Fokus Penguatan Keselamatan Transportasi di Koto Baru
- 19 Februari 2026
2.
Anggaran Kemenhub 2026 Fokus pada Infrastruktur dan Keselamatan
- 19 Februari 2026
3.
Presiden Ajak Pengusaha AS Berinvestasi untuk Kemajuan Indonesia
- 19 Februari 2026
4.
Menteri Pertahanan Paparkan Kunci Stabilitas Ekonomi Indonesia di AS
- 19 Februari 2026
5.
Kerja Sama PSN RI-AS di Batam Perkuat Industri Semikonduktor
- 19 Februari 2026













