Breaking

IHSG Ambles ke Level 6.094 Dipicu Tekanan Kuat Sentimen Domestik

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 22 Mei 2026
IHSG Ambles ke Level 6.094 Dipicu Tekanan Kuat Sentimen Domestik
Ilustrasi IHSG kembali terpuruk 223,55 poin (Foto: NET)

JAKARTA – Kondisi pasar saham di dalam negeri terpantau masih berada dalam posisi yang sangat tertekan. Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) kembali merosot sedalam 223,55 poin atau setara 3,54% menuju posisi 6.094,94 pada penutupan perdagangan hari Kamis (21/5/2026). 

Penurunan yang terjadi kali ini kian memperpanjang riwayat tren negatif IHSG, yang mana hal tersebut berbanding terbalik dengan situasi mayoritas bursa di kawasan Asia yang justru sedang menguat.

Kondisi yang bertolak belakang terjadi di bursa saham wilayah Asia Pasifik yang sukses membukukan lonjakan cukup tinggi. Indeks Kospi di Korea Selatan melonjak sebesar 8,42% menuju level 7.815, diikuti oleh indeks Nikkei 225 di Jepang yang terkerek naik 3,14% ke posisi 61.684. 

Sementara di tingkat Asia Tenggara, IHSG malah mencatatkan diri sebagai indeks dengan performa paling jeblok sepanjang perjalanan tahun 2026, lewat catatan penurunan yang menembus angka 29,51% secara year to date.

Berdasarkan penilaian analis, faktor pendorong utama yang menekan pergerakan IHSG saat ini lebih didominasi oleh sentimen dari dalam negeri ketimbang pengaruh global. 

Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania, mengutarakan bahwa para pelaku pasar sekarang ini masih bersikap menunggu hasil peninjauan kembali yang dilakukan oleh FTSE Russell serta MSCI terhadap kondisi pasar modal di Indonesia.

Saat ini pasar tengah mengantisipasi rilis pengumuman terkait evaluasi periodik tiga bulanan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) pada hari Jumat (22/5). 

Di samping itu, untuk periode Juni mendatang, atensi para pemodal tertuju penuh pada langkah yang akan diambil oleh MSCI mengenai penangguhan sejumlah saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Seorang praktisi pasar modal yang juga merupakan Founder WH-Project, William Hartanto, berpendapat bahwa gesekan yang terjadi antara BEI dengan MSCI menjadi akar permasalahan utama yang terus membayangi pasar di sepanjang tahun ini. 

Menurut pandangannya, persoalan seputar keterbukaan data telah memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan merosotnya kualitas pasar modal tanah air dalam penilaian para investor internasional.

Tidak hanya itu, kondisi pelemahan nilai tukar rupiah serta keputusan yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam mengatrol suku bunga acuan sebesar 50 basis poin hingga menyentuh angka 5,25% ikut memperkeruh suasana di pasar. 

Langkah kebijakan tersebut dinilai memberikan indikasi mengenai bertambahnya kekhawatiran atas stabilitas perekonomian serta semakin memperparah koreksi yang terjadi di pasar modal.

Tingkat kecemasan para penanam modal pun kian menebal pasca pemerintah melempar wacana terkait rencana pembuatan lembaga ekspor komoditas.

Regulasi baru ini melahirkan kekhawatiran bagi para pelaku pasar menyangkut risiko adanya pembatasan terhadap margin keuntungan para emiten yang bergerak di bidang batu bara serta kelapa sawit.

Bahkan, rencana kebijakan tersebut juga mengundang perhatian tersendiri dari institusi pemeringkat internasional seperti Moody’s Ratings dan S&P. 

Kedua lembaga pemeringkat tersebut memandang bahwa sentralisasi pada aktivitas ekspor komoditas berisiko memicu distorsi di pasar sekaligus memberikan implikasi buruk terhadap industri pertambangan maupun rapor peringkat utang Indonesia.

Apabila ditinjau dari sisi teknikal, Cindy memberikan proyeksi bahwa IHSG memiliki kecenderungan untuk meneruskan tren pelemahannya jika tidak sanggup bertahan di atas titik support 6.081. Andaikata tekanan terus berlanjut, posisi IHSG diprediksi akan menguji rentang level 5.882.

Bahkan William melemparkan proyeksi bahwa pergerakan IHSG memiliki potensi untuk merosot lebih dalam lagi menuju kisaran 5.400 andaikata sentimen-sentimen negatif yang ada tidak kunjung mereda. 

Menurut dirinya, momentum pemulihan di pasar saham domestik akan sangat bertumpu pada bagaimanakah hasil evaluasi dari MSCI nantinya.

“Kalau MSCI sudah tidak membekukan indeks, optimisme pasar bisa kembali,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kesempatan berbeda, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memandang bahwa kans untuk terjadinya rebound masih ada asalkan IHSG tetap mampu menjaga posisinya di atas level 6.092.

Melalui skenario tersebut, IHSG memiliki peluang untuk merangkak naik menuju rentang area 6.250. Namun sebaliknya, jika indeks justru jebol melewati batas level 6.000, maka IHSG terancam terseret masuk ke dalam area support yang cukup rawan di angka 5.900.

Alrich berpendapat bahwa situasi pasar saat ini tergolong sangat peka terhadap ketidakpastian dari sebuah regulasi. 

Adanya anggapan bahwa pihak pemerintah bersikap terlampau intervensif dalam mencampuri mekanisme pasar dinilai bisa mendongkrak risk premium Indonesia, sehingga memicu para pemodal asing untuk mereduksi portofolio investasi mereka di dalam pasar domestik.

Oleh sebab itu, para pelaku investasi diimbau untuk bertindak secara lebih cermat serta defensif dengan cara mengarahkan perhatian pada saham-saham yang disokong oleh fundamental kokoh, memiliki kondisi perputaran uang yang sehat, tingkat valuasi yang tergolong murah, serta tidak terlalu terdampak oleh dinamika ketidakpastian arah kebijakan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua