Breaking

Investasi Dana Pensiun Lesu, Imbal Hasil Merosot pada Awal 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 22 Mei 2026
Investasi Dana Pensiun Lesu, Imbal Hasil Merosot pada Awal 2026
Ilustrasi Orang mencari Dana Pensiun (Foto: NET)

JAKARTA – Kinerja investasi di sektor industri dana pensiun (dapen) menghadapi tekanan berat sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Hal ini dipicu oleh gejolak di pasar modal serta perubahan arah tren suku bunga. Situasi tersebut memicu penurunan tajam pada perolehan imbal hasil investasi atau return on investment (ROI) sektor ini jika dibandingkan dengan perolehan pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), persentase ROI industri dana pensiun terpantau hanya berada di angka 0,02% pada kuartal I-2026. Capaian ini merosot sangat signifikan dari periode yang sama tahun lalu yang masih mampu bertahan di level 0,69%.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menjelaskan bahwa penurunan kinerja investasi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan risiko geopolitik global yang memberikan sentimen negatif terhadap pasar modal domestik.

Keadaan ini mengakibatkan instrumen ekuitas atau saham bergerak dengan tingkat volatilitas yang sangat tinggi selama tiga bulan pertama tahun ini. Selain itu, tingkat suku bunga pada periode Januari sampai Maret 2026 terpantau berada di posisi yang lebih rendah daripada catatan kuartal pertama tahun lalu. Faktor tersebut ikut menekan laju imbal hasil investasi, utamanya pada portofolio pasar uang dan pendapatan tetap yang alokasinya masih mendominasi aset dana pensiun.

“Tingkat yield investasi ikut menurun, khususnya pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Ogi Prastomiyono, tantangan investasi bagi industri dana pensiun sampai akhir tahun nanti diperkirakan masih cukup besar. Dinamika pasar, perubahan tren suku bunga, hingga risiko kenaikan inflasi diproyeksikan akan memengaruhi nilai wajar dari berbagai instrumen penempatan dana.

Oleh karena itu, OJK meminta para pengelola dana pensiun untuk memperketat tata kelola manajemen risiko sekaligus memperluas diversifikasi portofolio agar hasil investasi yang diperoleh tetap protektif di tengah tekanan pasar.

Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Mulyadi, menilai bahwa pengelola dana pensiun memang diwajibkan untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menempatkan dana investasi.

Menurut Bambang Sri Mulyadi, eksekusi strategi investasi defensif dinilai jauh lebih tepat untuk diterapkan di tengah kondisi ekonomi dan pasar keuangan yang penuh dengan ketidakpastian seperti saat ini.

Bambang Sri Mulyadi juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan likuiditas dan masa jatuh tempo investasi agar pembagian hak manfaat kepesertaan dana pensiun dapat terus direalisasikan tanpa ada kendala.

Tekanan serupa turut dirasakan oleh Dana Pensiun BCA. Direktur Utama Dana Pensiun BCA, Budi Sutrisno, mengungkapkan bahwa tingkat ROI perusahaan menyusut ke level 0,50% pada kuartal I-2026, dari raihan sebesar 1,02% pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Melalui penjelasan Budi Sutrisno, dinamika pasar memberikan dampak terhadap performa dari sejumlah aset investasi yang dimiliki oleh perusahaan.

Jika situasi pasar modal tidak segera memperlihatkan pemulihan yang berarti, ia memproyeksikan perolehan ROI pada tahun ini berpotensi lebih rendah dibandingkan realisasi pada tahun 2025.

Demi menjaga stabilitas kinerja investasi, Dana Pensiun BCA terus melakukan evaluasi serta penyesuaian strategi alokasi secara berkala, termasuk memanfaatkan momentum kenaikan suku bunga acuan yang baru-baru ini ditetapkan oleh Bank Indonesia.

“Langkah ini untuk menjaga optimalisasi hasil investasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua