Breaking

Penjualan Tumbuh 11,8%, NEST Genjot Kapasitas Produksi Sarang Walet

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Penjualan Tumbuh 11,8%, NEST Genjot Kapasitas Produksi Sarang Walet
ILUSTRASI, pt esta indonesia (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) berhasil menorehkan pertumbuhan pada angka penjualan sekaligus laba bersih sepanjang kuartal I/2026. Performa positif ini didorong oleh melonjaknya permintaan ekspor komoditas sarang burung walet menuju pasar Jepang. Menatap periode mendatang, emiten ini bersiap untuk memacu volume produksi sejalan dengan mulainya operasional fasilitas pabrik yang baru.

Merujuk pada publikasi laporan keuangan per Maret 2026, PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) berhasil mengantongi pendapatan hingga Rp93,6 miIiar, atau mengalami pertumbuhan sebesar 11,8% jika disandingkan dengan perolehan di periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni sebesar Rp83,7 miIiar.

Beriringan dengan tren kenaikan omzet tersebut, profit bersih dari emiten yang bergerak di industri sarang burung walet ini juga terkerek naik sebesar 38,2% secara tahunan (YoY) menjadi Rp6,12 miIiar, dari posisi sebelumnya yang bernilai Rp4,43 miIiar.

Direktur Utama NEST Hoo Anton Siswanto mengungkapkan bahwa jalannya roda penjualan pada kuartal I/2026 ditopang oleh tingginya permintaan pasar saat momentum perayaan Tahun Baru Imlek, yang di dalamnya termasuk lonjakan permintaan dari para mitra di Jepang.

“Perseroan memperoleh permintaan dalam jumlah besar dari pelanggan di Jepang untuk produk sarang burung walet mess atau remahan sebanyak 70 kilogram, sehingga turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan penjualan pada kuartal I/2026,” ujarnya dalam keterangan resmi sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (25/5/2026).

Di samping membidik pasar Jepang, korporasi juga terus melakukan penetrasi untuk memperluas jangkauan pasar ekspor mereka ke beberapa negara potensial lainnya, termasuk Taiwan dan China.

Meskipun pendapatan mengalami pertumbuhan di angka ganda, NEST terbukti andal dalam menekan laju kenaikan beban pokok penjualan yang tercatat hanya naik sebesar 2,7% secara tahunan menjadi Rp82,72 miIiar.

Pola efisiensi ini sukses memicu laba kotor korporasi melonjak hingga lebih dari tiga kali lipat mencapai nominal Rp10,9 miIiar. Dampaknya, marjin laba bruto perusahaan merangkak naik secara signifikan menuju level 11,6% jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal I/2025 yang bertengger di posisi 3,7%.

Pemaparan dari Hoo Anton menyebutkan, penguatan margin ini disokong oleh eksekusi strategi pengembangan produk yang memiliki nilai tambah tinggi serta optimalisasi kapasitas produksi lewat operasional pabrik anyar di bawah PT Tunas Esta Indonesia.

“Beroperasinya pabrik baru turut meningkatkan kapasitas produksi hingga 200% dan membuka potensi kenaikan omzet sampai 300% per tahun,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen perseroan juga mengalkulasi bahwa pelemahan mata uang rupiah terhadap yuan China memberikan stimulus positif bagi rapor kinerja mereka. 

Bagaimanapun, Negeri Tirai Bambu tersebut berstatus sebagai salah satu tujuan utama dari aktivitas ekspor produk sarang burung walet milik NEST. Sekadar informasi, nilai tukar CNY/IDR tercatat mengalami pergerakan naik sebesar 10,7 persen dalam kurun waktu enam bulan ke belakang.

Dalam aspek operasional, perolehan laba usaha perusahaan dilaporkan naik sebesar 83,7% menjadi Rp7,9 miIiar, dibarengi dengan kenaikan operating margin ke posisi 8,4% dari yang sebelumnya berada di angka 5,1%.

Untuk langkah ke depan, NEST memiliki rencana memperkokoh lini riset serta teknologi produksi demi mendongkrak efisiensi jalannya operasional. 

Perusahaan juga bakal memfokuskan porsi kerja pabrik PT Tunas Esta Indonesia demi menggenjot komoditas sarang walet tipe jidun yang kini tengah kebanjiran permintaan tinggi di pasar.

Sarang burung walet tipe jidun sendiri merupakan sebuah terminologi niaga di dalam sektor industri sarang walet yang merepresentasikan sarang walet berkarakteristik mangkuk padat dan tebal, dengan ukuran yang umumnya besar sekaligus relatif utuh. 

Istilah ini jamak diimplementasikan oleh para pengepul serta pelaku eksportir guna memetakan klasifikasi kualitas dan rupa fisik sarang.

Meninjau dari sudut pandang neraca keuangan, akumulasi jumlah kas serta setara kas milik korporasi melesat tinggi sebesar 119% menjadi Rp22,14 miIiar pada akhir Maret 2026. 

Pertumbuhan kas yang masif tersebut disokong oleh raihan arus kas operasi bernilai Rp43,88 miIiar, atau melonjak sangat tajam bila dikomparasikan dengan raihan periode serupa tahun lalu yang berada di angka Rp273,69 juta.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua