Harga Minyak Mentah WTI dan Brent Stabil, Pasar Pantau Isu Damai
JAKARTA - Nilai jual minyak mentah dunia bergerak stagnan setelah membukukan lonjakan berarti pada dua sesi transaksi sebelumnya.
Situasi pasar kala ini dipengaruhi oleh beredarnya sejumlah laporan yang saling berseberangan terkait kelanjutan traktat damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Naik turunnya nilai komoditas energi tersebut dipicu oleh ketidakjelasan ini, sebagaimana dilansir dari berita sumber Bloombergtechnoz pada Rabu (3/6).
Minyak mentah tipe West Texas Intermediate (WTI) berada pada rentang US$94 per barel seusai sempat melesat di atas 7% dalam dua sesi lalu. Di samping itu, minyak tipe Brent bertengger di posisi US$96 per barel pada penutupan transaksi Selasa (2/6).
Beberapa kabar dari media lokal Iran menyangsikan adanya perkembangan positif dalam meja diplomasi tersebut, kendati Presiden AS Donald Trump kerap menyatakan bahwa agenda perundingan masih tetap bergulir.
Ketidakpastian menyangkut kelanjutan moratorium perang saat ini serta nasib rute logistik energi di Selat Hormuz tetap membuat harga minyak bergejolak.
Padahal pada bulan sebelumnya, nilai minyak sempat turun lantaran pelaku pasar percaya diri resolusi akan segera disepakati.
Penetapan kesepakatan damai yang terus tertunda ini memperbesar kecemasan internasional bahwa pasar global terpaksa terus mengurangi stok minyak mentah yang tersedia. Langkah ini ditempuh sembari menanti pulihnya aktivitas ekspor dari wilayah Teluk Persia secara total.
"Dengan asumsi produksi minyak di Timur Tengah kemungkinan besar belum akan kembali ke level sebelum perang hingga paling cepat Oktober atau November mendatang, cadangan minyak global diprediksi menyusut hingga 800 juta barel," kata Bart Melek, global head of commodity strategy di TD Securities, sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Oleh karena itu, kami memproyeksikan harga minyak Brent akan berada di kisaran rata-rata US$104 per barel pada paruh kedua tahun ini, dengan risiko lonjakan harga hingga di atas US$150 akibat kelangkaan pasokan di tingkat regional."
Menyadur rilis ABC News yang merujuk pada beberapa narasumber, Trump mengharapkan Iran menyerahkan kesepakatan nuklir dalam bentuk tertulis sebagai bagian dari kesepakatan dasar guna menyudahi konflik.
Rilis itu mendeskripsikan bahwa pihak Teheran pada mulanya baru menyerahkan kesanggupan secara verbal untuk menyepakati beberapa poin menyangkut agenda nuklir mereka.
Sementara di AS, data dari asosiasi industri memperlihatkan bahwa stok minyak mentah komersial mereka turun sampai 6,8 juta barel pada pekan kemarin.
Apabila kecenderungan ini divalidasi oleh rilis resmi otoritas setempat yang dijadwalkan keluar pada Rabu (3/6) waktu setempat, maka kondisi ini akan menjadi penurunan stok minyak AS selama enam pekan beruntun.
Minyak WTI untuk kontrak pasokan Juli terpantau bergerak konstan di angka US$93,78 per barel pada pukul 06.01 pagi waktu Singapura. Minyak Brent untuk kontrak pasokan Agustus terkerek tipis 1,1% dan berakhir pada posisi US$96 per barel pada transaksi hari Selasa.