Masa Depan Bisnis Paylater Bank di Tengah Modernitas Transaksi

Rabu, 06 Mei 2026 | 13:46:33 WIB
ILUSTRASI, Sektor perbankan Indonesia

JAKARTA – Sektor perbankan kini mulai serius menggarap potensi bisnis paylater bank yang dinilai punya ruang tumbuh sangat besar di tengah digitalisasi transaksi.

Layanan pembiayaan berbasis digital ini diprediksi akan terus berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Produk ini bahkan disebut-sebut berpotensi menjadi pendamping kartu kredit konvensional bagi para nasabah retail.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan angka yang cukup menarik perhatian. Porsi kredit pada sektor ini per Maret 2026 berada pada level 0,33 persen.

Meskipun terlihat kecil, angka tersebut menunjukkan tren kenaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Baki debet pada sektor ini telah menyentuh angka Rp28,3 triliun rupiah secara nasional.

Ganda Raharja Rusli selaku Direktur Allo Bank Indonesia menjelaskan bahwa prospek lini bisnis ini memang sangat menjanjikan. Beliau melihat adanya kemungkinan layanan ini menjadi pilihan utama untuk transaksi harian berskala menengah.

“Produk ini bahkan kemungkinan bisa menjadi produk pelengkap atau bahkan produk substitusi dari produk kartu kredit konvensional untuk transaksi bernilai kecil hingga menengah karena prosesnya yang jauh lebih praktis dan instan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Strategi ekspansi kini mulai diarahkan pada integrasi ekosistem belanja digital secara langsung. Salah satunya adalah dengan menyematkan fitur pembayaran ini pada berbagai platform perdagangan elektronik terkemuka.

“Bank juga akan terus mengintegrasikan fitur paylater bank langsung di halaman pembayaran (checkout) e-commerce,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, raksasa perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. juga mencatatkan pertumbuhan nasabah yang signifikan. Hingga kuartal pertama tahun ini, pengguna aktif layanan mereka mencapai angka 192.000 orang.

Hera F. Haryn selaku EVP Corporate Communication BCA menyebutkan bahwa konsumsi ritel menjadi motor penggerak utama. Penggunaan layanan ini banyak ditemukan pada pemesanan akomodasi perjalanan hingga kebutuhan harian lainnya.

Peluang besar ini juga didukung oleh ketersediaan dana murah yang dimiliki oleh perbankan nasional. Hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan dengan perusahaan pembiayaan atau pinjaman daring biasa.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa bank memiliki data histori transaksi nasabah yang lebih lengkap. Kapabilitas ini memungkinkan pihak bank untuk melakukan penilaian risiko secara lebih akurat dan terukur.

Namun, beliau juga mengingatkan agar pihak perbankan tetap waspada terhadap potensi gagal bayar. Penilaian risiko yang disiplin sangat diperlukan agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga dengan baik.

“Semakin mudah proses persetujuan, semakin besar risiko nasabah mengambil kredit berulang di banyak tempat tanpa kemampuan bayar yang memadai,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun kontribusinya belum dominan terhadap total kredit nasional, dampaknya bagi pendapatan non-bunga cukup terasa. Bisnis paylater bank dapat menjadi alat untuk meningkatkan loyalitas nasabah dalam jangka panjang.

“Jadi ruang tumbuhnya ada, tetapi bank sebaiknya tidak sekadar mengejar volume, melainkan membangun BNPL sebagai bagian dari ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara kemudahan akses dan perlindungan bagi konsumen. Penggunaan data melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas kredit.

Sektor perbankan diharapkan tidak hanya mengejar volume transaksi semata dalam mengelola lini bisnis ini. Disiplin dalam mengelola risiko tetap menjadi prioritas utama demi stabilitas industri keuangan di masa depan.

Terkini