Ekspor dan Minyak Mentah Turun, Harga Kontrak CPO Malaysia Ambles

Buah sawit atau CPO usai diambil dari perkebunan kelapa sawit. (Sumber Gambar : haisawit.co.id)
Jumat, 22 Mei 2026 | 11:28:03 WIB

JAKARTA - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan yang cukup dalam pada sesi perdagangan Kamis (21/5/2026). Penurunan nilai yang berlangsung selama dua hari beruntun ini disebabkan oleh minimnya aktivitas permintaan ekspor serta kejatuhan harga minyak mentah global sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menyadur laporan dari Investor Daily, catatan penutupan BMD pada perdagangan Kamis (21/5/2026) memperlihatkan kontrak berjangka CPO untuk periode Juni 2026 menyusut 112 Ringgit Malaysia ke level 4.403 Ringgit Malaysia per ton. Pada saat yang sama, kontrak untuk Juli 2026 anjlok hingga 123 Ringgit Malaysia menjadi 4.433 Ringgit Malaysia per ton.

Langkah koreksi pun menerpa kontrak berjangka CPO Agustus 2026 yang terpangkas sebesar 125 Ringgit Malaysia menjadi 4.458 Ringgit Malaysia per ton. Tren penurunan ini diteruskan oleh kontrak September 2026 yang merosot 121 Ringgit Malaysia menuju posisi 4.480 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara pada kontrak berjangka CPO Oktober 2026, nilainya jatuh 112 Ringgit Malaysia ke angka 4.507 Ringgit Malaysia per ton. Terakhir, untuk kontrak berjangka CPO November 2026 terpantau berkurang sebanyak 101 Ringgit Malaysia hingga menetap di level 4.537 Ringgit Malaysia per ton.

Merujuk pada data komoditas Tradingview, beban utama yang menekan harga minyak kelapa sawit bersumber dari melorotnya angka ekspor produk CPO Malaysia sepanjang tanggal 1 hingga 20 Mei 2026.

Data dari lembaga surveyor kargo mengonfirmasi adanya penyusutan pengapalan di kisaran 13,9% hingga 20,5% ketimbang periode yang sama pada bulan lalu.

Situasi di pasar semakin terbebani menyusul melemahnya harga minyak nabati saingan di perdagangan internasional. Pada bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling ramai ditransaksikan terkoreksi 0,97%, lalu kontrak minyak sawit di bursa tersebut ikut melempem 2,02%. 

Pola senada juga terjadi di Chicago Board of Trade (CBOT) dengan merosotnya harga minyak kedelai sebesar 0,92%.

Dampak Pelemahan Harga Minyak Dunia

Arah pergerakan nilai jual CPO secara global memang sering mengekor fluktuasi harga minyak nabati kompetitor lantaran bersaing di segmen pasar yang sama. 

Di lain sisi, harga minyak mentah dunia kembali menyusut setelah para pelaku pasar mencermati perkembangan diplomasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang berlangsung bersamaan dengan kelesuan laju ekonomi di kawasan zona euro.

Turunnya harga minyak mentah memicu berkurangnya daya pikat CPO untuk dimanfaatkan sebagai bahan substitusi biodiesel. Kondisi tersebut secara langsung menambah beban tekanan yang harus dihadapi pada pasar perdagangan sawit.

Sentimen kurang menguntungkan lainnya muncul dari pergerakan mata uang ringgit Malaysia yang terapresiasi kurang lebih 0,2% atas dolar AS. Menguatnya nilai tukar ringgit ini menjadikan harga komoditas sawit terasa lebih tinggi bagi para importir yang bertransaksi memakai mata uang asing.

Reporter: Gemilang Ramadhan