IHSG Diprediksi Melemah ke Level 6.094 Imbas Makroekonomi Domestik

Ilustrasi IHSG diperkirakan masih akan menghadapi tekanan(Gambar: NET)
Jumat, 22 Mei 2026 | 13:34:59 WIB

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan menghadapi tekanan. Tren penurunan ini diproyeksikan bakal berlanjut dalam sesi perdagangan yang bergulir pada Jumat (22/5/2026).

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, indeks acuan pasar modal di dalam negeri ini meluncur jatuh cukup dalam sebesar 3,54 persen. Adanya koreksi tersebut menyeret IHSG jatuh ke zona merah dan mendarat pada level 6.094.

Aktivitas pemodal internasional mencatatkan aksi jual bersih atau net sell. Nilai pelepasan aset tersebut mencapai Rp 508 miliar di pasar reguler.

Kemunduran nilai indeks saham domestik ini mengemuka di tengah pergerakan bursa utama regional yang sebetulnya melaju di zona hijau. Keadaan tersebut juga terjadi bersamaan dengan penurunan harga komoditas minyak mentah di pasar internasional.

Faktor pendorong global itu berhulu dari munculnya kabar positif mengenai kelanjutan negosiasi proposal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Walau demikian, pasar modal dalam negeri tampak lebih reaktif terhadap indikator risiko yang datang dari domestik.

Para pelaku pasar kini tengah memperhatikan secara saksama tinjauan dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti konsekuensi dari wacana regulasi pengendalian ekspor komoditas.

S&P Global Ratings memberikan pandangan bahwa kebijakan pembatasan ekspor itu berisiko menekan performa perdagangan luar negeri nasional. Efek domino berikutnya dikhawatirkan dapat menggerus pundi-pundi penerimaan negara.

Regulasi baru tersebut dinilai memperlebar risiko terhadap stabilitas neraca pembayaran Indonesia. Kondisi ini pada akhirnya memicu kecemasan para pemodal terhadap prospek ekonomi makro serta proyeksi rating utang Indonesia ke depan.

Dari sisi pergerakan grafik, posisi indeks saat ini masih tertahan dalam koridor tren penurunan atau bearish. Fase ini menuntut kecermatan dari para pelaku pasar modal.

“Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan support terdekat di area 6.000 and support lanjutan 5.900, sementara resistance berada di kisaran 6.400,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Arah sentimen pasar selanjutnya bakal dipengaruhi oleh pengumuman sejumlah indikator ekonomi domestik paling aktual. Para pemodal sekarang ini sedang menantikan rilis data saldo giro berberjalan atau Current Account Balance serta laju pertumbuhan pasokan uang beredar dalam arti luas (M2 Money Supply).

Di sudut lain, performa saham di pasar modal global justru memperlihatkan pergerakan yang positif. Indeks-indeks utama di bursa Wall Street Amerika Serikat kompak menutup perdagangan dengan capaian menguat.

Indeks Dow Jones Industrial Average terapresiasi sebesar 0,55 persen menuju level 50.285,6. Penguatan ini menjadi salah satu katalis positif dari pasar global.

Laju positif juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang naik tipis 0,17 persen ke posisi 7.445,7. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite menguat sebesar 0,087 persen menempati level 26.293,1.

Untuk aktivitas transaksi harian, terdapat beberapa saham yang dapat dicermati oleh para pelaku pasar. Instrumen ini dapat menjadi pilihan alternatif di tengah fluktuasi indeks.

BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi saham CPIN dan AMRT untuk trading, Jumat (22/5/2026).

Reporter: Gemilang Ramadhan