Ditekan BI Rate dan Sentimen Danantara, IHSG Berpotensi Turun ke 5.882

Ilustrasi IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000 (Foto: NET)
Jumat, 22 Mei 2026 | 13:34:59 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan berada di bawah tekanan pada sesi perdagangan Jumat (22/5/2026). Hal ini terjadi pasca indeks mengalami kejatuhan sebesar 3,54% hingga parkir di posisi 6.094,91 pada akhir perdagangan Kamis (21/5/2026).

Berdasarkan analisis tim riset Phintraco Sekuritas, absennya pendorong positif yang disertai dengan maraknya sentimen negatif dari dalam negeri maupun global berisiko membuat pergerakan IHSG kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan esok hari. 

HSG bahkan dinilai memiliki peluang untuk menguji batas psikologis di level 6.000 seandainya aksi pelepasan saham oleh investor asing dan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) masih terus berlanjut.

“Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000. Support kuat berikutnya di level 5.882,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada aktivitas perdagangan hari ini, performa seluruh sektor terpuruk di zona merah. Koreksi paling dalam dialami oleh sektor energi yang merosot hingga 6,91%. 

Kejatuhan ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah di pasar dunia serta adanya langkah menteri ESDM yang mewajibkan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas guna menyerahkan hak partisipasi sebesar 10% kepada pihak pemerintah daerah.

Bukan hanya itu, pelaku pasar pun memberikan respons yang kurang baik terhadap regulasi pemerintah mengenai aktivitas ekspor CPO dan batu bara lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia. 

Langkah kebijakan ini memicu keresahan di kalangan para investor terkait adanya kemungkinan pergeseran tata cara ekspor pada komoditas-komoditas strategis.

Beban yang dipikul IHSG kian bertambah berat seiring dengan kenaikan BI Rate yang turut menekan kinerja saham-saham di sektor perbankan, sekaligus mempertebal sikap menghindari risiko (risk off) di pasar saham domestik. 

Kondisi psikologis para pemodal juga semakin terganggu oleh munculnya isu margin call yang menyeret saham milik PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA).

Di sisi lain pada pasar valuta asing, nilai tukar mata uang rupiah ditutup terkoreksi sebesar 0,07% ke posisi Rp17.667 per dolar AS. Hal ini menjadi indikator bahwa tekanan terhadap aset-aset finansial dalam negeri masih tergolong besar.

Melihat dari indikator teknikal, tim analis memandang bahwa IHSG sebetulnya sudah menutup gap pada rentang area 6.092. Kendati demikian, posisi tersebut dipandang masih cukup rentan apabila gelombang aksi jual belum kunjung mereda. 

Oleh sebab itu, IHSG masih berisiko melanjutkan tren penurunan dan menguji zona support psikologis pada level 6.000 di perdagangan besok. Apabila batas tersebut runtuh, maka area support kuat selanjutnya diperkirakan berada pada kisaran 5.882.

Saat ini, para investor diimbau untuk mencermati fluktuasi nilai tukar rupiah, pergerakan arus modal asing, kelanjutan regulasi pemerintah di sektor komoditas, serta dinamika sentimen global yang tetap memegang peranan krusial dalam menentukan arah pergerakan jangka pendek IHSG.

Reporter: Gemilang Ramadhan