Sabtu, 09 Mei 2026

Laba Bengkel Pesawat Garuda GMFI Melonjak 78,28 Persen Kuartal I 2026

Laba Bengkel Pesawat Garuda GMFI Melonjak 78,28 Persen Kuartal I 2026
ILUSTRASI, Bengkel Pesawat Garuda(Sumber Gambar : market.bisnis.com)

JAKARTA – Peningkatan keuntungan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) pada tiga bulan pertama tahun 2026 menjadi sinyal positif pulihnya industri perawatan pesawat Garuda Indonesia Group. Hal ini terjadi di tengah eskalasi aktivitas penerbangan dunia serta percepatan pengoperasian kembali armada di dalam negeri. 

Entitas anak usaha Garuda Indonesia Group yang bergerak di sektor maintenance, repair & overhaul (MRO) tersebut berhasil meraih laba bersih tahun berjalan senilai US$6,76 juta, atau melesat 78,28% jika disandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025 sebesar US$3,79 juta.

Kenaikan profit tersebut diikuti oleh pertumbuhan nilai pendapatan sebesar 20,53% menjadi US$114,94 juta pada akhir Maret 2026, naik dari angka sebelumnya sebesar US$95,36 juta. 

Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa pencapaian ini membuktikan semakin kuatnya fundamental bisnis MRO perusahaan sejalan dengan tingginya permintaan jasa perawatan di industri penerbangan, baik lokal maupun mancanegara.

“Pertumbuhan laba dan pendapatan pada awal tahun ini mencerminkan momentum penguatan bisnis GMF yang semakin solid,” sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (7/5/2026).

Baca Juga

Askrindo Raih Premi Rp 1,16 Triliun pada Kuartal I 2026 Tumbuh 10 Persen

Operasional GMF juga didukung oleh peningkatan volume perawatan pesawat serta ekspansi ke pasar luar negeri. Perusahaan melaporkan perolehan klien baru dari Korea Selatan, yakni Airzeta dan T-Way. Selain itu, GMF telah menuntaskan berbagai proyek internasional seperti overhaul armada A330 milik Korean Air serta penggantian landing gear maskapai Fiji Airways.

Pada waktu yang bersamaan, GMF kian mengukuhkan perannya sebagai pusat pemeliharaan mesin pesawat di Indonesia setelah sukses menjalankan full overhaul perdana secara mandiri pada mesin CFM56-5B milik Citilink. 

Agenda ini memperoleh dukungan dana dari Danantara dan dianggap sebagai elemen krusial dalam menyokong kesiapan armada di bawah naungan Garuda Indonesia Group.

Di luar sektor aviasi, GMF gencar memperluas variasi sumber pendapatan melalui proyek teknik non-penerbangan. Salah satu pengerjaannya meliputi normalisasi PLTG MPP Balai Pungut TM2500 #3 milik PLN Batam. Upaya diversifikasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkokoh basis pertumbuhan bisnis di bidang jasa keteknikan.

Secara teknis, GMF pun terus melebarkan sayap di pasar global melalui perolehan sertifikasi baru dari otoritas penerbangan Aruba dan Selandia Baru. Legalitas tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk menjangkau pangsa pasar perawatan yang lebih luas. 

Beriringan dengan membaiknya profitabilitas, kondisi permodalan perusahaan turut menguat. Per Maret 2026, total ekuitas GMF melonjak menjadi US$140,58 juta dari posisi US$114,57 juta pada akhir 2025. Penguatan ini berasal dari akumulasi laba serta aksi penerbitan saham baru.

“Kami optimistis momentum pertumbuhan bisnis ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya aktivitas penerbangan global dan kebutuhan layanan maintenance yang semakin tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam skala konsolidasi, Garuda Indonesia Group secara keseluruhan mulai memperlihatkan tren pemulihan yang kian mantap. Hingga penutupan Maret 2026, pendapatan grup naik 5,36% menjadi US$762,35 juta. 

Angka penumpang juga mengalami kenaikan 6,76% ke posisi 5,42 juta orang, yang dipicu oleh penambahan kapasitas serta program *return to service* armada yang dipercepat. Sejalan dengan itu, rugi bersih grup Garuda Indonesia mampu diperkecil sebesar 45,19% menjadi US$41,62 juta pada kuartal I/2026.

Gemilang Ramadhan

Gemilang Ramadhan

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pendapatan SILO Tumbuh 8,4 Persen dan EBITDA Naik Jadi Rp 748,8 Miliar

Pendapatan SILO Tumbuh 8,4 Persen dan EBITDA Naik Jadi Rp 748,8 Miliar

Aturan Free Float 15 Persen BEI 560 Emiten Patuh dan 400 Transisi

Aturan Free Float 15 Persen BEI 560 Emiten Patuh dan 400 Transisi

DSSA Grup Sinarmas Gandeng Huawei Pacu Bisnis EBT dan Sistem BESS

DSSA Grup Sinarmas Gandeng Huawei Pacu Bisnis EBT dan Sistem BESS

ITSEC Asia Stock Split 1 banding 2 Mulai 13 Mei 2026

ITSEC Asia Stock Split 1 banding 2 Mulai 13 Mei 2026

Adhi Karya Rombak Direksi dan Komisaris dalam RUPST Tahun Buku

Adhi Karya Rombak Direksi dan Komisaris dalam RUPST Tahun Buku